Lintasan Sejarah Kenagarian Nata: Kedatangan Bangsa-Bangsa Asing ke Ranah Nata(Sambungan-5)

Oleh: Heri Sandra-sentralberita|Natal-Madina~Semenjak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511, praktis perdagangan di selat Malaka dimonopoli oleh bangsa Portugis. Menyikapi hal ini, kerajaan Aceh mengalihkan pusat perdagangan Asia Tenggara dari Selat Malaka ke Pantai Barat Sumatera. Sebagai akibatnya, kawasan administratif dari Indera Pura hingga ke Singkil berkembang dengan pesat [sumber : Gusti Asnan Doktor lulusan Univ. Bremen German]

Sebagai salah satu kota pelabuhan di pesisir pantai barat Sumatera, Nagari Nata cukup ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa, suku dan warna kulit. Melalui kota pelabuhan inilah banyak diekspor hasil bumi dan hutan berupa emas, damar, kayu yang bermutu tinggi, kapur barus, kemenyan, lada dan rempah rempah serta komoditi lainnya.

  1. Bangsa Portugis.

Kedatangan bangsa ini pertama kalinya ke Nagari Ranah Nata pada tahun 1492 – 1498. Hubungan Nata dengan Portugis hanya sebatas hubungan dagang saja. Kedatangan mereka untuk yang kedua kalinya ke Nata, sesungguhnya merupakan imbas dari keberhasilan mereka menaklukkan Malaka (1511 M).

Pengalihan jalur perdagangan yang di motori Kerajaan Aceh semakin bertambah maju, membuat Bangsa Portugis ingin mengetahui keberadaan Pantai Barat Sumatera dari dekat dan tidak cukup hanya mendengar berita berita yang berkembang di kalangan saudagar.

Setelah menyaksikan langsung keberadaan pelabuhan Nagari Nata dari dekat maka timbullah hasrat mereka untuk menjalin hubungan perdagangan. Pada tahun 1557 Portugis meminta izin kepada empat orang Datuk Basa di Nagari nata untuk mendirikan loji di pinggir sungai. [sumber: Bapak Arifinsyah, berdasarkan dokumen yang ada di rumah gadang Nata]. Keberadaan Portugis di Selat Malaka berulang ulang mendapat serangan dari pasukan Pate Kadir yang bersekutu dengan Panglima Hang Nadim pada tahun 1512, dan serbuan Kerajaan Demak dibawah pimpinan Pati Unus pada tahun 1513. Serangan dari ketiga pihak ini sesungguhnya tidak pernah berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun cukup membuat repot bangsa Portugis.

Bagi Nagari Nata serta masyarakatnya, hubungan dagang yang singkat dengan bangsa portugis pasca penaklukan Malaka, telah menorehkan catatan sejarah yang sangat esensial. Selama masyarakat Nata masih memegang teguh adat istiadatnya maka selama itu pula hubungan kedua bangsa (Nata – Portugis) pada masa lalu, akan tercerminkan melalui Pakaian Adat Nagari Nata itu sendiri.

Salah satu Mahkota yang dipakai oleh Permaisuri Raja Kerajaan Nata ada yang disebut dengan Cabang. Konon Mahkota yang terbuat dari emas ini, merupakan cendera mata dari pimpinan ekspedisi Portugis kepada Puti Baruatji Permaisuri yang dipertuan di Nagari Nata. Cabang ini selanjutnya menjadi hiasan kepala Permaisuri Tuanku Besar secara turun temurun. Hingga pada saat ini cabang juga menjadi atribut pakaian Adat Anak Daro dan Mara Pulai serta Pasumandan.

Mahkota bersusun tiga ini ( Cabang ) melambangkan Tigo Tungku Sajarangan yang mewakili tiga unsur komponen adat yaitu Rajo Alam (Tuanku Raja), Rajo Adat (Datuk Panghulu) dan Rajo Ibadat (Ulama) kemudian menjelma kepada tiga unsur pemangku adat sekarang yakni Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik Pandai di dalam Nagari. (Bersmbung…). (Penulis adalah aktifis penggiat sosial dan mantan jurnalis).

Comments