Guru SMK Penerbangan Dipecat Ketua Yayasan Tanpa Pesangon

Para guru yang dipecat

sentralberita|Medan~ Sejumlah guru Sekolah Penerbangan Angkasa Nasional (SPAN) Medan resah karena menjadi korban pemecatan sepihak oleh Ketua Yayasan.

Padahal guru yang dipecat merupakan guru senior yang telah mengabdi sejak sekolah tersebut didirikan sekitar tahun 2006 yang lalu.

Salah seorang guru senior yang dipecat, Dra. Nurmasyiah Siregar, kepada sentralberita.com menyebutkan bahwa surat pemecatan dilayangkan oleh pihak Yayasan Pengembangan Pembangunan Nasional (YPPN) Sumbar, selaku yayasan yang mengelola SPAN Medan pada 15 Juli 2019.

“Surat pemecatan itu ditandatangani Ketua YPPN Medan,” tutur Nurmasyiah Siregar, Kamis (18/7).

Menurut Nurmasyiah didampingi Irna Banjar Sari, S.Pd, mereka tidak mengetahui apa kesalahan mendasar yang membuat mereka dipecat.

Apalagi sebelumnya mereka juga tidak pernah mendapatkan surat teguran atau surat peringatan dari pihak sekolah.

Namun, Nurmasyiah mengaku sebelumnya sempat mengalami ketidakcocokan dengan Kepala Sekolah SPAN Medan Dody Arisandy, terkait sejumlah kebijakan yang diterapkan.

“Kami kecewa dan merasa dicampakkan oleh pihak yayasan karena pemecatan dilakukan sewenang -wenang,” tutur Nurmasyiah lagi.

Sebanyak enam guru ditambah satu orang petugas kebersihan yang dipecat tanpa pesangon ini rencananya akan membuat pengaduan ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sumut guna menuntut keadilan.

Murid Harus Bayar Rp 4,2 Juta

sementara itu konflik internal di SPAN Medan berbuntut pada murid-murid di sekolah tersebut.
Sejumlah siswa berniat hengkang dan pindah sekolah, sebagai bentuk solidaritas terhadap guru yang dipecat.

Namun bagi siswa yang ingin pindah, pihak sekolah mewajibkan untuk membayarkan uang sejumlah Rp 4,2 juta.

Uang sejumlah Rp 4,2 juta itu dirinci sebagai berikut, Uang sekolah satu bulan Rp 600 ribu, uang administrasi Rp 1 juta dan uang pembinaan Rp 1 juta serta uang pemeliharaan gedung Rp 1.650.000.

Menurut Nurmasyiah, kutipan sebesar Rp 4,2 juta itu membebani orang tua murid, sebab proses belajar mengajar belum dimulai ketika proses pindah dilakukan.

“Orangtua keberatan, tapi ada juga satu wali murid yang sudah membayar karena malas ribut,” ujarnya.

Sementara itu Kepala SMK Penerbangan Angkasa Nasional (SPAN) Medan Dody Arisandy ketika dikonfirmasi wartawan membantah telah melakukan pemecatan.

“Sampai saat ini saya sebagai kepala sekolah tidak pernah mengeluarkan surat pemecatan. Surat pemecatan dikeluarkan oleh Ketua Yayasan,” ujar Dody Arisandy.

Dody mengatakan para guru diberhentikan karena tidak sanggup memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan yayasan. ”
Sebelumnya kami sudah tiga kali mengeluarkan surat peringatan namun tidak diindahkan oleh para guru,” sebutnya.

Menurut Dody dirinya siap menghadapi konsekuensi hukum yang akan ditempuh para guru jika melaporkan perihal pemecatan ini.

SMK Penerbangan Angkasa Nasional yang berlokasi di Jalan Turi Ujung, saat ini memiliki sekitar 63 orang siswa yang tersebar di dua jurusan yakni Jurusan Airframe and Powerplant, dan Jurusan Avionic. (SB/SA )

Comments