9 Terdakwa Penyelundup Satwa Dilindungi, Diadili di PN Medan

sentralberita|Medan~Sembilan terdakwa penyelundup satwa endemik dilindungi, hanya bisa menunduk saat menjalani sidang perdana. Keseluruhan anak buah kapal (ABK) tersebut, di dakwa menyelundupkan 28 ekor burung dari Maluku, dalam sidang di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (4/7).

Ke sembilan terdakwa masing-masing, Zulkifli Nasution, Dedi Mart Handra Butarbutar, Muhammad Saiful, Muhammad Siddik, Ismail, Aditya San Prayoga, Muhammad Ilham Ramadhan, Umar Efendi dan Joshua Fransciskus Hutabarat.

Dalam agenda pembacaan dakwaan sekaligus pemeriksaan saksi tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sani Sianturi, menghadirkan empat orang saksi. Masing-masing Abed Velazani dan Syambima dari Kemenkeu Direktorat Bea Cukai, Orion (Kepala kamar mesin Tugboot dan Willy.

“Saat itu kami melakukan patroli di perairan Belawan, kami melihat kapal tongkang (Kenari Djaya) melintas. Kemudian kami sandar melakukan pemeriksaan muatan, apakah dilengkapi surat-suratnya dalam membawa kayu log,” ungkap saksi Abed Velazani di hadapan Ketua Majelis hakim, Riana Pohan.

Saksi menjelaskan, saat melakukan pemeriksaan terhadap Kapal Tug Boat Kenari Djaja milik perusahaan PT Tjipta Rimba Djaja, yang membawa kayu log dari Maluku menuju Belawan, memang dilengkapi dengan surat-surat.

“Namun saat kami periksa ke lambung kapal, kami temukan burung-burung. Pertama kami temukan 18 burung di dalam sangkar. Jenisnya 1 burung Kakak Tua, sisanya Nuri Ambon,” sebut saksi.

Kemudian lanjut saksi, lantaran cuaca buruk, kemudian saksi membawa kapal dan ABK ke darat. Saat itulah kembali ditemukan burung lainnya. “Kami temukan lagi di dinding kamar ABK, total keseluruhan ada 28 ekor burung,” jelas saksi.

Menurut hasil pemeriksaan, kata saksi, terdakwa membawa kayu log dari Pulau Burung, Ambon. “Terdakwa mendapatkan burung-burung itu dari warga sekitar dan ada yang ditawari langsung oleh warga sekitar,” urainya.

Dalam surat dakwaan disebutkan, pada tanggal 4 Februari 2019 sekira pukul 14.00 WIB, terdakwa Zulkifli Nasution yang bertugas sebagai nakhoda kapal bersama 8 terdakwa lainnya, berangkat dari Pelabuhan Belawan menuju Maluku, menggunakan kapal Tug Boat Kenari Djaja milik perusahaan PT Tjipta Rimba Djaja.

Kemudian, tiba di Maluku pada tanggal 22 Februari 2019 sekitar pukul 17.00 WIT. Selanjutnya, dilakukan pemuatan kayu log sekitar 1 minggu yang dilakukan oleh operator PT Tjipta Rimba Djaja dan buruh yang berada di Maluku. 

“Sebelum kembali ke Belawan, seluruh ABK ditawari oleh masyarakat kampung di Wailanga untuk membeli burung dan ada juga masyarakat yang menawari burung dengan dating ke kapal yang digunakan oleh terdakwa,” urai JPU.

Dari keseluruhan satwa dilindungi tersebut, di beli dengan harga berfariasi. Yang paling mahal dibeli, 1 ekor burung Kakatua Jambul Kuning seharga Rp2 juta. Kemudian 1 ekor Kasturi Kepala Hitam, seharga Rp500 ribu.

Selanjutnya, burung-burung yang di beli para terdakwa dari masyarakat, dibawa ke kapal Tug Boat Kenari Djaja. Kemudian kapal berangkat dari Maluku menuju perairan Belawan dan sesampainya diperairan Belawan pada koordinat N 03O52’48” / E 098O46’40”, yakni pada hari Sabtu tanggal 13 April 2019 sekira pukul 22.00 wib petugas Bea dan Cukai, melakukan pemeriksaan. 

“Dari situ, ditemukan sebanyak 28 ekor burung yang dilindungi oleh undang-undang,” tandas JPU.

Perbuatan terdakwa, diancam Pidana Pasal 21 ayat (2) huruf a dan c jo pasal 40 ayat (2) UU RI No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah RI No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa jo Permen LHK No 106 tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.( SB/FS )

Comments