Dalam Usia 76 tahun, Ma’ruf Amin Tahan Berdebat Sekitar 2 Jam

sentralberita|Jakarta~Menonton debat cawapres Ma’ruf Amien verus Sandiaga Uno, Smart Defence ala Sugar Ray Robinson muncul pada Ma’ruf Amin.

Satu senjata diberikan oleh panitia debat. Dalam satu sesi, setiap cawapres dibolehkan memilih pertanyaan untuk memulai debat. Bisa dipastikan ini pertanyaan yang secara matang sudah disiapkan tim masing masing untuk memainkan serangan mematikan.

Sudah saya duga, itu yang diangkat Sandi: Tenaga Kerja Asing! Tanya Sandi, ketika masih banyak pengangguran dalam negeri, mengapa pemerintah Jokowi malah melonggarkan persyaratan dan lebih memberi angin tenaga kerja asing.

Isu tenaga kerja asing termasuk isu yang sangat tidak populer. Jokowi acapkali diserang melalui isu itu. Saya pun was-was, akan baguskah jawaban Kiai Haji Ma’ruf Amin?

Di luar dugaan, Ma’ruf Amin malah membuat pernyataan yang mungkin juga tak diduga Sandi. Setelah data disebut Ma’ruf Amin, tak ada elaborasi lebih lanjut dari Sandi.

Ujar Ma’ruf Amin, tenaga kerja asing di Indonesia sangat dikontrol. Bahkan total jumlah tenaga kerja asing di Indonesia hanya 0.01 persen. Itu prosentase tenaga kerja asing terkecil di dunia!

Isu tenaga kerja asing yang merupakan titik lemah, berubah menjadi titik kuat Jokowi.

Berbeda dengan Sandiaga Uno, yang gagah dengan penampilan Jas, Ma’ruf lebih mewakili sosok orang tua ala Indonesia. Ia menggunakan sarung saja. Tak hanya penampilan fisik. Di setiap argumen, ia sempilkan pula aneka kearifan dalam bahasa Arab.

Dalam usia 76 tahun, ia tahan berdebat sekitar 2 jam.

Satu keberuntungan Ma’ruf Amin, awalnya ia dianggap underdog untuk dunia perdebatan politik. Ini debat dengan isu umum: isu tenaga kerja, kesehatan, sosial budaya, dan pendidikan. Selama ini Ma’ruf Amin hanya dikenal keahlian dan ketokohannya di bidang keislaman belaka.

Tapi setelah empat menit pertama pembuka debat, terasa sosok yang lain. Kiai yang visioner, dengan pilihan diksi yang kuat mulai mengesankan. Ujarnya: “Bagi anak anak semua, jangan takut bermimpi. Bagi orang tua, tak perlu khawatir cita-cita anaknya. La Tahzan karena negara kini hadir membantu.”

Dua kali Ma’ruf merumuskan pertanyaan yang tak dijawab baik oleh Sandi. Pertama soal instrumen yang perlu disiapkan pemerintah agar transfer dana pendidikan ke daerah dapat terpantau.

Kedua, gugatan soal sedekah susu. Usia kritis anak anak untuk gizi justru di usia dua tahun pertama. Mereka membutuhkan justru yang terbaik adalah susu dari ibu kandungnya sendiri. Bagaimana ini bisa disedekahkan orang lain?

Ma’ruf memainkan pula kosa kota yang terkesan original dan imajinatif. Ia sebut program tol langit untuk dunia digital. Ia katakan berulang-ulang soal DUDI. Ternyata itu singkatan dari Dunia Usaha dan Dunia Industri.

Kearifan hidup dalam bahasa Arabnya yang fasih, ia sempilkan berkali- kali. Itu membuat argumennya lebih kaya karena ada kandungan khotbah pula di sana. Bagi pemilih Muslim yang mayoritas itu nuansa yang lebih menyentuh.

Tak lupa ia angkat budaya lokal yang merupakan kekuatan. Dalihan Na Tolu di Sumatra Utara. Itu kultur di Sumatra Utara yang berfungsi sosial mengikat kekerabatan dalam harmoni. Juga Pela Gandong di Maluku. Itu adat hubungan dua atau lebih komunitas yang saling
mengangkat seseorang dari komunitas luar sebagai saudara.

Ketika Sandi lebih terkesan sebagai anak muda lulusan luar negeri, Kiai Ma’ruf lebih tampil sebagai Ayah kita yang mengerti kekuatan budaya lokal sendiri.

Malaysia memiliki Mahathir. Dalam usia di atas 90 tahun, ia masih segar bugar masuk dalam pertarungan pemilu. Indonesia kini mempunyai Ma’ruf Amin. Dalam usia 76 tahun, Ia pun masih fasih berdebat dua jam.

Sejak sekolah di Amerika Serikat, saya penikmat tak hanya debat calon presiden di Amerika Serikat. Sayapun acap mengikuti acara perdebatan isu besar agama ataupun politik, yang sering diselenggarakan kampus di sana. Itu tradisi lazim dalam kultur akademik yang sudah mengakar.

Dengan pengalaman itu, saya menikmati penampilan Kiai Ma’ruf Amin. Melihat Ma’ruf Amin dalam perdebatan memberikan nuansa sendiri, nuansa penampilan debat ala Indonesia. Penampilan tokoh yang Indonesiana. (Penulis adalah Denny JA)