Ketua Fokal IMM Sumut: Hentikan Budaya Tuding-Menuding!


Sahlan Marpaung

sentralberita|Medan~Ketua Kooordinator Wilayah Forum Keluarga dan Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Utara (Korwil FOKAL IMM Sumut), Sahlan Marpaun menyayangkan kecenderungan belakangan ini berkembang di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia, dimana begitu gampangnya seseorang atau kelompok tertentu menuding orang lain atau kelompok lain dengan label dan stigma yang negatif, seperti Anti Pancasila, Anti NKRI, Kelompok Intoleran, dan yang terakhir kelompok yang mendelegitimasi atau melemahkan lembaga negara.

“Memangnya yang bisa mendeligitimasi satu institusi itu siapa ? Apa kepercayaan dan ketidakpercayaan itu bisa dipaksa-paksa atau diminta ?,” tanya Sahlan, Senin (14/1/2017)

Sahlan menegaskan, bahwa sesungguhnya yang membuat orang percaya atau tidak lagi percaya terhadap satu lembaga adalah integritas serta keteguhan orang-orang yang ada di dalamnya untuk tetap berjalan dalam aturan.

“Kalau memang tidak ada apa-apanya, kenapa harus merasa risih ? Walau dibuat begitu banyak berita miring, sepanjang tak ditemukan bukti-bukti dan indikasi, publik tentu tidak mudah dipengaruhi, sebab ini zaman sudah sulit untuk menyembunyikan sesuatu,” jelasnya.

Menurutnya, jika situasi sekarang seolah-olah sudah tak terkendali dan masyarakat banyak yang apatis serta kehilangan kepercayaan pada satu lembaga, maka menurut Sahlan yg harus dilakukan adalah introspeksi diri, bukannya malah menuding ke sana sini.

Sahlan menegaskan, sebaiknya biarlah rakyat semakin paham dan tercerahkan dengan membuka ruang seluas-luasnyanya untuk akses mengakses informasi. “Hanya pihak-pihak yang ingin memonopoli dan memanipulasi kebenaranlah yang tak mau rakyat tahu apa sebenarnya yang terjadi dan kenapa itu terjadi,” tegasnya.

Selain itu, Sahlan menghimbau agar budaya tuding-menuding ini tidak mudah dilontarkan, apalagi oleh para elit politik republik ini. “Karena kita khawatir bisa memicu timbulnya sikap saling curiga yang bisa merusak peesatuan,” pungkasnya. (SB/01)

Comments