Direktur Eksekutif CORE: Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2019 Diprediksi Capai 5,2 Persen

sentralberita|Jakarta~Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal memprediksi kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2019 tidak jauh berbeda dengan tahun 2018, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 masih berada di kisaran 5,1-5,2 persen.

“Pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 itu kita prediksi di 5,1-5,2 persen. Artinya sama dengan di 2018. (Tahun) 2018 kan di kisaran itu,” kata Faisal, saat dihubungi merdeka.com, Selasa (1/1).

Menurutnya, tekanan ekonomi global di tahun depan masih sama dengan yang terjadi tahun ini. “Jadi kita lihat tahun depan (tahun 2019) belum ada tanda-tanda ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi karena dari global tekanan masih berlanjut. Turbulency ekonomi yang kita rasakan tahun ini masih akan berlanjut,” jelas dia.

Sementara dari dalam negeri sendiri, defisit neraca perdagangan pun diperkirakan masih berlanjut di 2019. “Dan ekspor impor karena pengaruh global tadi, kinerja dari neraca perdagangan itu belum banyak berubah dibandingkan tahun ini,” ungkapnya.

Meskipun demikian, dia mengatakan pihaknya memperkirakan defisit neraca perdagangan akan mengalami penurunan di tahun yang akan datang. “Walaupun sama-sama defisit namun di tahun depan akan sedikit berkurang, tapi yang jelas kita belum melihat di tahun depan terjadi surplus,” tandasnya.

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, M. Nawir Messi, meragukan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu sentuh 5,2 persen pada 2019. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan sektor konsumsi masih di bawah tahun-tahun kejayaannya.

Menurut Nawir, konsumsi rumah tangga bisa dilihat dari pertumbuhan sektor ritel yang terjadi saat ini. Sejak 2011 sektor ritel mampu tumbuh dua angka (double digit), namun hal itu tidak terjadi di 2017 dan 2018.

Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ini menjelaskan, pada 2011 dan 2012, ritel mampu tumbuh dua angka, yaitu mencapai 14 sampai 15 persen.

“Teman-teman banyak yang optimis sekarang lebih dari 5 persen dan tahun depan 5,2 persen. Saya kok tidak melihat itu, karena konsumsi rumah tangga indikator yang utama adalah pertumbuhan ritel,” ungkapnya dalam diskusi di Atjeh Connection Sarinah, Jakarta, Sabtu (15/12).

Selain itu, menurut dia, geliat usaha di sektor swasta pun tampaknya juga tidak sebaik dahulu. Hal itu ditunjukkan dengan permintaan iklan swasta di media massa yang mulai menurun.(SB/01/mc)

Comments