Anak Tanpa Anus Akhirnya Normal, Setelah Disuruh Kapoldasu Operasi di RS Bahayangkara

sentralberita|Medan~ Clauzia Aldamayanti (3) akhirnya bisa merasakan kehidupan normal seperti anak seusianya. Pasalnya, balita tersebut telah menjalani operasi anus di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Clauzia yang merupakan putri pertama dari pasangan M Sofyan (39) dan Sri Wulandari (31) warga Kampung Agas, Kecamatan Percut Sei Tuan terlahir tanpa anus. Saat lahir, keadaan Clauzia normal. Namun ketika diperhatikan, bayi malang tersebut tidak memiliki anus.

Ayah Clauzia, M. Sofyan mengatakan bahwa harapan tersebut terwujud saat dirinya yang bekerja sebagai penarik becak bermotor (Betor) menghadiri acara dari Kapolda Sumut.

“Saat acara itu saya membawa istri dan anak saya ke Polda. Kebetulan pak Kapolda bertanya apa yang bisa saya bantu. Langsung saya membawa anak saya kepada Kapolda. Saat itu juga Kapolda menyuruh untuk mengobati anak pertama saya ini,” katanya kepada wartawan, Rabu (16/1/2019).

“Saat itu lah langsung di bawa ke RS. Bhayangkara untuk di rawat dan disuruh pak Kapolda agar di operasi,” sambung Sofyan.

Operasi yang dilakukan pada Selasa (15/1) kemarin sore ditangani oleh sejumlah tim dokter ahli, mulai dari spesialis bedah anak, spesialis anak, spesialis patologi, hingga spesialis anestesi. Dimana, waktu operasi yang berlangsung hingga mencapai 4,5 jam.

Sofyan pun menuturkan rasa terima kasihnya kepada Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto. Sebab, selama dua tahun, anaknya tidak bisa menjalani operasi pasca operasi pertama, karena keluarga Clauzia terkendala dengan biaya.

“Pada usia 9 bulan, anak saya harus membuat saluran pembuangan di perutnya. Tapi setelah itu, tidak pernah lagi, karena tidak ada biaya. BPJS juga sudah mati, karena iurannya tidak sanggup dibayar,” ujarnya.

“Dengan bantuan pak Agus ini saya sangat berterima kasih sekali karena anak saya sudah dioperasi semalam sore,” ungkap Sofyan.

Kabid Dokkes Polda Sumut, Kombes Pol dr Sahat Harianja menyampaikan, pertemuan Sofyan dengan Kapolda terjadi ketika Kapolda Sumut tersebut melakukan pertemuan dengan para penarik betor di Mapolda Sumut pada 12 November 2018. Dalam pertemuan itu, lanjutnya, ada yang melaporkan kepada Kapolda bahwa anak Sofyan mempunyai kelainan dengan tidak memiliki lubang anus.

“Sehingga Kapolda lalu memerintahkan Karumkit Bhayangkara untuk menindaklanjuti laporan itu. Sehingga seminggu kemudian, Sofyan dan keluarga dijemput kerumahnya untuk diperiksa, hingga dilakukan operasi pembuatan anus,” ujarnya.

Sementara itu, Karumkit Bhayangkara Kombes Pol dr Nyoman Eddy menambahkan, jika pihaknya sudah menyanggupi operasi terhadap Clauzia. Oleh karenanya, sebut dia, keluarga Sofyan sama sekali tidak ada dikenakan biaya apapun atas operasi yang dilakukan ini.

“Keluarga tidak ada keluar biaya. Mulai dari penjemputan, pendampingan, sampai operasi selanjutnya. Kami memang sudah menyanggupinya, namun kami juga berkordinasi dengan BPJS Kesehatan. Jadi, keluarga tidak ada menanggung biaya apapun,” tegasnya.

Sementara itu, selaku tim medis, dr Erjan Fikri SpB SpBA mengungkapkan bahwa Clauzia lahir dengan kelainan berupa anus tidak pada tempatnya (fistula). Selain itu ukurannya sangat kecil, bahkan ia menggambarkan lebih kecil dari pada batang korek api.

“Pada saat bayi, kelainannya tidak diketahui, karena kotoran bayi yang memang encer. Tapi dengan berjalannya waktu, dimana kotoran anak akan semakin keras sehingga semakin sulit keluar,” pungkasnya.

Saat ini, Clauzia masih dalam perawatan di RS Bhayangkara Medan. Dirinya masih perlu perwatan untuk penyembuhannya. (SB/AR/01)

Comments