LPM USU Laksanakan Pelatihan Literasi Media Online Kepada Guru dan Orang Tua Murid

sentralberita|Medan~Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) USU mengadakan Program Profesor Mengabdi, dimana seluruh Guru Besar khususnya di Universitas Sumatera Utara berkesempatan untuk mengadakan program pengabdian kepada masyarakat.

Pelatihan Literasi Media Baru (Media Online) kepada guru dan orang tua murid PAUD di Kecamatan Medan Selayang merupakan rangkaian acara dari program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan Profesor Mengabdi dilaksanakan oleh Prof. Dra. Hj. Lusiana Andriani Lubis, M.A., Ph.D, selaku ketua pelaksana program Profesor Mengabdi dan juga menjabat sebagai Ketua Magister Ilmu Komunikasi FISIP USU.

LPM USU memberikan kepercayaan kepada Magister Ilmu Komunikasi FISIP USU dalam menyelenggarakan kegiatan yang bekerjasama dengan PAUD ILMA Medan Selayang II sebagai mitra partner dalam acara ini.

Kegiatan ini terlaksana pada tanggal 27 November 2018, di Balai Sembada, Kecamatan Medan Selayang. Peserta merupakan guru dan orang tua murid dari PAUD yang terdaftar di Kecamatan Medan Selayang, diantaranya PAUD ILMA, TK Ibnuqoyyim, At-Thoriq, Gloria, Ganda Sari, Fadhil Al Insani, Mawar Selayang II, Rizky Ananda, Kasih Bunda Jaya, Baitul Ilmi, Generasi Bangsa, Annisa, Srikandi, TK Melati, serta mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP USU yang sedang melakukan riset tentang Literasi Media Online.

Pelatihan ini menghadirkan3 (tiga) orang pemateri yang berkaitan dengan tema acara, diantaranya Lanniari Rangkuti, S.Pd selaku Kepala Bidang PAUD dan DIKMAS Kota Medan, Prof. Dra Hj. Lusiana Andriani Lubis, M.A., Ph.D selaku Guru Besar dan Drs. Syafruddin Pohan, M.Si., Ph.D, sekretaris Magister Ilmu Komunikasi FISIP USU serta moderator yang dibawakan oleh Haris Wijaya, S.Sos, MComm selaku dosen ilmu komunikasi FISIP USU.

Materi pertama dengan judul “Mengimbangi Game Online dengan Permainan Tradisional” yang dibawakan Prof. Lusiana Andriani menyampaikan ketika anak di rumah, tuntun anak-anak untuk bermain permainan tradisional.

Realitas sosial menunjukkan bahwa jenis permainan tradisional anak-anak di Indonesia yang sering dimainkan anak di luar rumah maupun di dalam rumah sudah mulai bergeser kepada permainan game online. Ia mengingatkan kepada peserta pelatihan bahwa banyak permainan anak yang hampir terlupa,

“Banyak permainan tradisional yang mulai ditinggalkan anak-anak saat ini seperti layang-layang, congklak, gangsing, kelereng, petak umpet, egrang, lompat tali, ular naga, jaga benteng, gobak sodor. Harusnya kita bimbing anak-anak dengan dikemas dengan deskripsi permainan dan dalam tayangan audio visual yang menyentuh,” ungkap Lusiana.

Prof. Lusiana juga menekankan kepada orang tua yang berada baik di dalam maupun luar rumah, agar tetap mendampingi dan memantau anak-anak dalam aktivitas bermainnya.

“Jangan menyia-nyiakan waktu kita sebagai orang tua dalam berkomunikasi dengan anak. Anak harus kita bimbing dengan hal-hal positif,” tambanya.

Dalam presentasinya ia memaparkan 4 M Peran Orang Tua/Keluarga dan 3 P Peran Guru di Sekolah, yakni mencari tahu dan kreatif. Orang tua harus mencari tahu dan kreatif dalam mencari permainan yang menarik untuk mengalihkan anak dari gadget, mempelajari aplikasi yang tersedia, memilih permainan yang sehat untuk anak dan mendampingi anak dalam bermain. Selain itu peran guru di sekolah haruslah peduli terhadap anak didik dan memberikan permainan yang berbasis gotong royong dengan membawa anak bermain ke alam seperti di lapangan, peduli terhadap media sosial dan peduli dan bekerjasama dengan orangtua murid dalam memberikan edukasi game yang sehat untuk anak.

Materi kedua dibawakan oleh Lanniari Rangkuti, S.Pd dengan judul “Bermain Sambil Belajar”. Lanniari mengatakan anak-anak tidak bisa dibiarkan bertumbuh sendiri, tetap harus ada pengetahuan yang mereka miliki. “Kita jangan menyalahkan gadget. Karena ada berjuta pengetahuan yang baik, dan berjuta pula keburukan yang dimiliki, tinggal kita yang dapat memanfaatkan dimana kita berdiri,” ungkap Lanniari.

Menurut Lanniari, fokus pemerintah adalah terbentuknya karakter dan kepribadian anak. Tanggung jawab tersebut ada di pengelola PAUD dan juga orang tua. Lanniari juga menghimbau penerapan Kurikulum 2013 (K-13), yang dinilai mudah dicerna dan mengasyikkan. Penerapan K-13 juga mengharuskan para guru mengikuti banyak pelatihan-pelatihan seperti ini.

“PAUD bertujuan untuk menjadikan anak tumbuh dengan fisik dan pemikiran yang matang, Berikan perhatian pada anak sejak dini. Bukan hanya di PAUD tapi juga SD, SMP. Berkomunikasi dengan sekolah, jalin hubungan dengan wali kelas, tanya apa saja kegiatan anak yang dilakukan. Buatlah grup WhatsApp antara wali murid dengan guru. Orang tua harus tahu jam per jam dimana posisi anak kita. Hal ini dapat menghindari kita dari pergaulan yang kurang baik untuk anak-anak,” tambahnya.

Lanniari juga menganjurkan setiap PAUD melaksanakan pelatihan parenting setiap bulan. Hal ini sudah menjadi program pemerintah dan sudah ada anggaran yang diatur.

PAUD bisa mendatangkan psikolog supaya menambah pengetahuan para orang tua tentang pola pengasuhan, pola mendidik. Selain itu, tiap akhir semester, adakan pentas seni yang tidak hanya menampilkan para murid tapi juga orang tua.

Selanjutnya, materi terakhir ditutup dengan judul “Etika Berkomunikasi di Media Sosial” oleh Syafruddin Pohan. Ia mengatakan media sosial tidak bisa dielakkan. Tidak semua isi media sosial baik atau buruk, ada nilai yang baik seperti advokasi, edukasi, hiburan namun terdapat nilai yang buruk pula.

Tidak ada aturan yang membuat kita cerdas bermedia sosial. Pembuat media sosial tidak pernah memberikan penjelasan mengenai penggunaan media sosial yang aman dan sehat. Media sosial mengisi ruang cara belajar yang berbeda, bermain namun tetap belajar.

“Apa yang dilarang di kehidupan nyata dan media sosial, sama. Tidak boleh menghina, berbohong, berjudi. Persoalannya ketika kita melakukan perbuatan yang mengarah ke arah hukum, misalnya antarpribadi secara langsung tidak masalah, tapi ketika naik ke media Facebook, ada yang mengadu, bisa menjadi pelanggaran hukum. Etika bermedia sosial dapat dilakukan dengan prinsip saring dahulu, baru sharing,” ungkap dosen mata kuliah Etika dan Hukum Media di Magister Ilmu Komunikasi USU tersebut.

Pada pelatihan ini, peserta juga mendapatkan praktik langsung dari Arrum Dara Efda, M.I.Kom selaku alumni Magister Ilmu Komunikasi FISIP USU yang membantu guru dan orang tua untuk dapat memilih aplikasi online yang sehat untuk anak.

Dari mulai mencari tahu aplikasi permainan anak, mengunduh atau mendownload, hingga mengajarkan sang anak untuk ikut dalam permainan tersebut, dan pastinya contoh permainan yang diberikan dapat menambah kreativitas dan pengetahuan anak-anak.

Salah satunya yaitu aplikasi Drawing and Coloring Book Game yang akan mengasah motorik tangan tanpa perlu membuang banyak kertas atau mencoret tembok, Aplikasi Aku Balita Cerdas terdiri dari beberapa modul belajar anak yang menjamin suasana belajar akan lebih menyenangkan, dan aplikasi Marbel Budaya Nusantara yang dapat membantu anak untuk lebih mengenal kebudayaan dari berbagai daerah nusantara.

Melalui praktik langsung ini diharapkan guru dan orang tua tidak lagi menyalahkan teknologi yang berkembang, seperti gadget yang kita sadari lebih memudahkan kita dalam segala hal, termasuk mengajarkan anak-anak tentang modul pembelajaran dari sekolah. Dalam hal ini guru dan orang tua dituntut untuk melakukan literasi media online, dimana peran orang tua dan guru yang paling penting untuk dapat selalu mawas diri terhadap apa yang dihadapkan kepada anak-anak kita saat ini dan masa yang akan datang. (SB/01/AR)

 

Comments

Tinggalkan Balasan