Tergugat II Selaku Bendahara Tidak Pernah Membuat LPj Keuangan Gereja

sentralberita|Medan~Bendahara gereja IRC yang juga tergugat II Melva Rosa Siregar sejak awal hingga mengambil sikap keluar dari jemaat,tidak pernah membuat laporan pertanggungjawaban keuangan.Akibatnya tidak diketahui berapa jumlah keuangan gereja selama ini.

Demikian diungkapkan  Kalep Gordon Lumbantobing,penduduk Jalan Saudara,saksi dari Penggugat Pendeta Asaf Marpaung dihadapan sidang majelis hakim Pengadilan Negeri ( PN ) Medan,diketuai Saryana yang digelar di ruang Cakra 9,Senin ( 22/10).

Saksi Kalep dengan lancar menjawab semua pertanyaan dari penggugat pendeta Asef Tunggul Marpauang melalui kuasa hukumnya Japansen Sinaga.

Dalam persidangan yang tampak.dihadiri tergugat Satu Guntur Marbun dan isterinya tergugat II Melva Rosa Siregar saksi Kalep  menceritakan  soal tanah berperkara
di Jalan Gang Rahmat.”Saya tau karena pada waktu peletakan batu pertama saya ikut karena saya juga jemaat disiitu,Luas tanah gereja itu 2624 m2,”ungkap saksi.

Dikatakan saksi,adapun tanah pertapakan gereja IRC dibeli dari Anduk Kaban seluas 2 612 m 2,sedang dari Rasiman Kaban 815 m 2,dan dibuatkan akte jual beli di hadapan notaris kepada pendeta Asaf Marpaung.Sedangkan harga tanah yang dibeli dari kedua orang tersebut sekitar Rp 700 juta lebih.

“Dibeli dari Anduk Kaban dan Rasiman Kaban seharga Rp 700 juta lebih.Uang pembeliannya berasal dari para jemaat dan sejumlah donatur”,ucap saksi yang merupakan jemaat gereja IRC itu.

Setelah tanah tersebut dibeli selanjutnya dilakukan penyertifikatan yang dibuat atas nama pendeta Asef Tunggul Marpaung dan sebagian lagi atas nama bendahara Melva Rosa Siregar.

“Pada waktu pembuatan Sertifikat,dibuat dihadapan Notaris Belgiana.Satu atas nama Asef Marpaung satu lagi atas nama Melva Rosa Siregar.Tapi itu hanya formalitas supaya bisa dibuat Prona”,tegas saksi.

Selain itu sebut saksi ada lagi sertifikat atas nama Rasiman Kaban tapi sudah dialihkan atas nama Melva Rosa.Namun kata saksi terjadi pengambilan Sertifikat oleh Guntur ( suami Melva Rosa) tergugat satu dan kelompoknya secara paksa dari pendeta Asef Tunggul Marpaung.

Namun ketika ditanya kenapa penggugat begitu saja mau menyerahkan sertifikat tersebut.Menurut saksi,itulah makna  Kasih,pak Pendeta tidak mau ada ribut – ribut sehingga ia begitu saja menyerahkan sertifikat tersebut.

“Sertifikat yang diambil dari Pak Pendeta itu  bernomor 4556,dan sertifikat dari Melva Rosa,saksi tidak ingat nomor berapa”,sebut saksi.

Dihadapan majelis hakim,saksi juga membenarkan yang dilakukan selanjutnya oleh Guntur Marbun setelah berhasil merebut sertifikat pada 10 Maret 2018 merobohkan pagar bagian belakang gereja IRC dan menemboknya.

Dihadapan pengunjung yang memadati ruang sidang,saksi juga menyebut sejak pada tahun 2015 tergugat I Guntur Marbun tidak lagi terhitung sebagai anggota  jemaat,sedang tergugat dua ( Melva Rosa) sudah tidak jemaat lagi pada tahun 2018.

Dalam sidang itu juga saksi juga mengaku mengetahui adanya pembangunan Pastoral di bagian belakang gereja IRC yang diperuntukkan bagi pendeta Asaf Tunggul Marpaung.

“Benar ada dibangun Pastoral dibagian belakang gereja,diperuntukkan untuk tempat bagi pendeta Asef”,tegas saksi.

Sementara itu menjawab pertanyaan kuasa hukum tergugat mengenai sumber dana pembelian tanah .Menurut saksi bahwa sumber dana dari para jemaat dan diperuntukkan sepenuhnya  untuk pembangunan  gereja IRC.

Namun saksi mengakui dalam pembangunan gereja saksi menyebut ada kucuran dana dari tergugat II Melva Rosa namun tidak tahu berapa jumlahnya.
“Sedangkan gereja IRC selesai dan resmi digunakan untuk tempat peribadatan sejak tahun 2012,”paparnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi,hakim menunda sidang hingga Rabu 31 Oktober 2018,untuk mendengarkan saksi penjual tanah dan saksi yang akan diajukan tergugat.( SB/FS ).

Comments

Tinggalkan Balasan