Hujan Semalaman, Kota Medan Tergenang Air, Tak Terkecuali Ruangan Basement DPRD Medan

sentralberita|Medan~Untuk kesekian kalinya Kota Medan kembali tergenang, usai semalaman diguyur hujan, Selasa subuh (9/10). Bahkan tinggi air mencapai 70-80 cm sehingga merembes masuk ke rumah warga.

Sejumlah jalanan yang kerap menjadi langganan banjir diantaranya, Jalan Ismaliyah, Jalan Pelajar, Jalan Thamrin, Jalan Dr Mansur dan masih banyak lagi, kembali tergenang. Kondisi lalu lintas pun macet.

Kantor pemerintahan juga tak luput dari ‘serangan’ banjir. Contohnya Kantor DPRD Medan, Jalan Raden Saleh, Medan. Ruangan basement tergenang sehingga belasan petugas cleaning service melakukan aksi bersih-bersih.

Kondisi banjir ini disebabkan banyaknya saluran drainase yang tumpat, sehingga luapan air memasuki rumah-rumah warga. Seperti yang dialami Ega Budiman, warga Jalan Pelita VI, Gang Sepakat, Kelurahan Tegal Rejo, Kecamatan Medan Perjuangan. Hujan yang terjadi sekira jam 2 dinihari itu membuat keluarganya terpaksa begadang lantaran air masuk ke dalam rumah.

“Terpaksa begadang awak, malam-malam nguras, air”kata pria parobaya ini menambahkan tinggi air mencapai 20 cm masuk ke rumahnya.

Malam itu dia pun sibuk memindahkan barang-barang, terutama elektronik ke tempat yang lebih tinggi. Namun tilam, kursi dan lemari terpaksa dibiarkan terkena air, karena tak tahu mau dipindahkan kemana.

Persoalan banjir ini sudah berulangkali dikritik DPRD Medan yang menilai Pemko Medan gagal bekerja. Dana triliunan dianggarkan untuk penanggulangan banjir, termasuk pengorekan drainase namun tak menghasilkan.

Seperti yang pernah disampaikan Paul Mei Anton Simanjuntak, anggota Komisi D (IV) DPRD Medan yang membidangi pembangunan infrastruktur. Dia berharap agar anggaran pembenahan jalan yang mencapai Rp 1 triliun lebih dialihkan untuk pembangunan waduk.

“Untuk apa dianggarkan pembenahan jalan yang begitu besar, tapi yang dibenahi hanya jalan itu-itu saja dan terkesan hanya tambal sulam untuk bagi-bagi kue proyek. Lebih baik dianggarkan pembuatan waduk saja sehingga banjir di Kota Medan bisa diatasi,”himbaunya.

Namun menyoal pembangunan waduk, Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution yang dikonfirmasi wartawan malah bersikap seolah tak senang dan balik bertanya.

“Wartawan jangan hanya bertanya saja, coba tunjukkan lokasi mana bisa dibuat waduk? Apa lapangan Merdeka itu kita gali dan buat jadi waduk,” katanya dengan raut kesal pada sejumlah wartawan, usai Paripurna DPRD Medan.
“Jangan hanya bertanya saja, menurutmu di mana mau dibuat waduk di tengah Kota Medan ini,” tukasnya lagi.

Menurutnya, melihat persoalan banjir tidak bisa secara menyeluruh. Sebab, setiap daerah berbeda-berbeda permasalahannya. Ia lantas mencontohkan banjir yang terjadi dititik nol atau seputaran Lapangan Merdeka. Disebutkannya, ada dua jalur pembuangan air di sana. Pertama, menuju sungai di belakang Grand Aston. Kedua, sungai di dekat Podomoro.

“Kalau ke Grand Aston tidak ada masalah, sudah kita cek. Kalau ke Podomoro kita lihat ternyata jalurnya terhambat jembatan penyeberangan orang (JPO). Akhirnya kita putuskan JPO dibongkar,” paparnya. (SB/Husni L)

Comments

Tinggalkan Balasan