Hobby Game Bawa Rahmat Menangkan PBIC

sentralberita|Medan~Remaja berkulit sawo matang dan bermata sipit itu terlihat tak pernah absen setiap harinya hadir ke salah satu warnet yang terletak di jl.Padang Tembung . Jari jemarinya terlihat begitu lincah memainkan keyboard dan mouse. Keringat yang mengucur membasahi wajahnya, tak menghalangi semangatnya untuk terus bermain Point Blank, dentuman keyboard dan klickan mouse yang tak henti di dalam warnet ARCA Medan menandai semangat Rahmat untuk memenangkan kompetisi Point Blank Indonesian Competition(PBIC).

Rahmat, remaja yang usianya hanya 21 tahun itu, dari masa kecilnya gemar bermain game. Seharian waktu dihabiskannya hanya untuk bermain game dalam bentuk game apapun. Masa kecilnya yang dihabiskan untuk bermain game, tak membuatnya bosan untuk tetap bermain game di hari-harinya hingga ia reamaja sekarang.

Awal mula Rahmat, remaja kelahiran Medan tersebut menyukai game ketika ia berumur 6 tahun. Ia jatuh cinta kepada game tetris atau menyusun balok yang ada pada jenis game handheld atau yang banyak anak-anak ketahui game boot. Game menyusun balok-balok yang sangat booming pada masa itu, membuat ia berniat memiliki score tertinggi dari teman-temannya. Saat itulah Rahmat mulai memainkan game secara serius dan tergila-gila pada game.

Tahun tahun berikutnya, tak hanya game tetris pada game handheld, Rahmat remaja kelahiran 22 Mei 1995 juga memainkan game console seperti captain comando. Pada masa itu, anak-anak hanya membayar Rp.200/gamenya. Game console yang direntalkan sangat menarik anak-anak termasuk Rahmat untuk bermain game bersama-sama. Dan pada saat itu score yang tertinggi di rental game console yang terletak di jalan Padang Tembung dimiliki oleh Rahmat.

Rahmat, anak petama dari empat bersaudara itu mulai remaja dan dunia internet mulai membanjiri setiap remaja pada masa itu. Warnet-warnet mulai bertebaran di Tembung yang awalnya masih pedesaan. Setiap harinya banyak remaja yang mengahabiskan waktunya di warnet, termasuk Rahmat remaja ganteng bermata sipit yang mengahabiskan waktu luang di warnet.

Rahmat, anak dari pasangan Pak Muhtadi dan Bu’ Ronna tak henti-henti dan tak bosan bosan untuk ke warnet, bukan untuk bersosial media seperti remaja pada umumnya, namun ia ke tempat wirausaha yang menyewakan jasa internet itu hanya untuk bermain game-game kegemarannya. Meskipun orang tuanya selalu menasehatinya untuk tidak terlalu seing bermain game, namun ia tetap tidak menghiraukannya.

Kecintaanya terhadap dunia game termasuk game online membuat remaja tampan itu rela mengeluarkan puluhan hingga ratusan ribu rupiah demi game favoritnya. Terkadang ia hingga rela mengambil paket bergadang hingga pagi hari untuk memainkan Point Blank online.

Point blank merupakan sebuah permainan komputer bergenre FPS atau lebih dikenal dengan game tembak menembak yang dimainkan secara online. Tembak menembak inilah yang membuat game ini digemari remaja pria termasuk Rahmat remaja berkulit sao matang itu. Namun tak sedikit remaja wanita yang juga menyukai game tersebut

Kecintaannya terhadap game inilah yang membuat remaja yang tinggal di Jln.Baru Gg. Keluarga itu terus mengasah kemampuannya setiap hari dalam bermain game point blank. Hingga ia rela membawa mouse, keyboard, bahkan mouse pad sendiri dari rumah agar dapat bermain secara nyaman dan seru. Sepulang sekolah, ia selalu menyempatkan diri untuk bermain sebentar lalu pulang kerumah untuk makan, setelah makan ia akan bergegas kembali ke warnet untuk bermain game lagi.

Bergadang hingga matahari mulai terbit untuk bemain game fovoritnya itu menunjukkan begitu asiknya ia bermain game, istirahat bebeapa jam dan kemudian ketika matahari tepat diatas kepalanya, ia mulai beranjak dari rumah menuju tempat favoitnya untuk bermain game hingga menjelang matahari mulai terbenam kembali.

Kini remaja itu mulai memasuki bangku kuliah,namun kecintaannya terhadap game tak kunjung pudar. Namun beberapa hal membuat ia mulai mengurangi waktu bermain game nya. Tugas kuliah dan para Cheater (orang yang bermain game secara curang) mulai menghambat lajunya dalam bermain game. Namun tak hanya itu, nasehat orang tua yang memintanya untuk berhenti bermain game pun jadi tambahan untuk berhenti bermain.

Semester II bangku kuliah telah ia masuki, namun game tidak mengganggu perkuliahannya. Hal itu dikarenakan ia mampu mengatur waktu untuk kuliah dan untuk bermain. Kuliah tak menghambatnya dalam berprestasi di akdemika kampus dan prestasinya bermain. Namun ada satu hal yang tak bias ia punkiri dan akhirnya membuat ia berhenti bermaingame, yaitu cheater. Ya, cheater istilah untuk orang yang bermain game dengan cara tidak jujur atau menggunakan aplikasi tambahan agar bermain lebih mudah tanpa harus susah susah menggunakan skil.

“Bermain point blank lebih enak bawa mouse macro sendiri dari rumah sama bawa keyboard gamenya, dan gak lupa juga mouse padnya supaya mainnya enak, nyaman, dan berasa bermain tingkat dewa, bukan menggunkan aplikasi untuk bermain curang”,ujarnya.

Kini Rahmat telah pensiun dari Point Blank, Walau kelihatannya hobby bermain game ini tidak bermanfaat, namun telah banyak pestasi dan hadiah yang telah ia dapat, salah satunya adalah memenangkan juara II dalam Point Blank Indonesian Competition(PBIC). Pertandingan bergengsi ini dilakukan di seluruh Indonesia dan ia dan rekan-rakannya mendapatkan masing-masing 5 juta rupiah, kaos, mouse, mouse pad, dan bingkisan. Tak hanya itu, ia juga masuk Runner up dalam Point Blank Word Competition (PBWB) dan mendapatkan hadiah Rp 20 juta dan bingkisan untuk satu timnya. Masih banyak perlombaan lokal yang telah ia juarai terutama wilayah Medan dan sekitarannya. Meskipun ada penolakan dari orang tua untuk tidak bermain game, namun orang tua tetap bangga jikalau Rahmat memnagkan sebuah kompetisi Point Blank.(SB/Rasy)

Comments