Hamida, Tetap Kuat Walau Tanpa Ayah

sentalberita|Medan~Suara-suara dari kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan raya yang terdengar begitu nyaring menemani siang gadis itu. Itulah resiko memiliki tempat tinggal tepat di tepi jalan raya. Suara-suara yang keluar dari kendaraan tak henti-hentinya berbunyi menghiasi jalanan. Tak ada waktu sunyi, kecuali saat tengah malam. Ya suasana itu tepatnya berada di Jalan Halat Medan. Tempat tinggal sang gadis.

Gadis yang akan menginjak 20 tahun itu di bulan Juni ini menghabiskan waktu 3 tahun belakangan di rumah neneknya. Nenek dari ibunya. Masih sangat muda. Dia belum bekerja. Tetapi masih mengenyam pendidikan di salah satu Universitas Negeri Islam di Sumatera Utara, yaitu UIN SU yang berada di Jalan Williem Iskandar.

Gadis bernama lengkap Hamida Musril itu mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di Fakultas Dakwah.
Tampak luar, Hamida sama seperti gadis-gadis lainnya yang sebaya dengannya. Tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda. Ya, dia menjalani kehidupannya 3 tahun belakangan tanpa adanya seorang ayah di sisinya. Hanya seorang ibu dan dua adik laki laki. Dalam menjalani kehidupannya yang sekarang ini, banyak hal yang dilakukannya untuk memenuhi kehidupan mereka.

Contohnya saja seperti siang ini. Gadis berdarah minang ini tengah menjaga toko herbal milik ibunya. Ah tidak. Milik keluarga kecilnya. Di toko inilah mereka bisa memenuhi kebutuhannya. Seraya mengerjakan tugas kuliahnya Hamida senantiasa menunggu pelanggan datang untuk membeli produk-produk herbal yang dijualnya. Tak ada kata jenuh dalam benaknya. Karena dia sadar, dari terjualnya produk-produk itulah dia bisa makan dan juga hidup.

Jika libur kuliah, Hamida selalu berada di toko. Sedangkan sang ibu pergi keluar menjajakan produk-produk herbal itu dari rumah ke rumah. Jika dilihat teliti, kerja sama antar anggota keluaraga sungguh bagus. Saling tolong menolong untuk mereka juga. Karena mereka sendiri juga sadar jika bukan mereka yang bekerja memang siapa lagi yang mau membantu mereka. Diberi tempat tinggal di rumah neneknya saja itu sudah sangat membantu. Sedikit membantu perekonomian mereka. Setidaknya mereka tidak memikirkan biaya listrik.

Hamida tak bisa menghabiskan waktu mudanya seperti gadis sebayanya. Misalnya pergi ke mall, ke cafe untuk sekedar nongkrong, atau hal lainnya yang dilakukan oleh gadis sebayannya. Mungkin, sesekali memang dia pernah bermain. Hanya saja tidak sering. Tugas kuliah yang meenumpuk ditambah dengan pekerjaan membantu ibunya. Itu saja sudah cukup menguras waktunya. Belum lagi pekerjaan rumahnya. Untung saja toko dan rumahnya berada dalam tempat. Itu semakin memudahkannya mengerjakan dua pekerjaan sekaligus.

Walau tak ada sosok ayah yang menemaninya, Hamida tetap gentar. Dia tak ingin berlarut dalam kesedihan. Waktu terus bejalan. Hidup terus berjalan. Jadi mau tak mau, suka tidak suka, terpakasa tidak terpaksa, dia harus hidup sesuai dengan yang digariskan oleh Allah padanya. Mungkin dengan cara inilah Allah mendewasakan dirinya dan juga kedua adiknya. Sebab rencana Allah itu tidak ada yang buruk. Apalagi kepada hamba-Nya sendiri.

Karena beban hidup yang terus meningkat dan menghimpit, terkadang Hamida menawarkan produk-produk herbalnya itu pada teman-temannya. Temannya di MTs dulu, di MAN, bahkan di kuliah saat ini. Sebab dia sadar jika terus menunggu pelanggan di rumah biaya yang masuk tidak akan cukup menghidupi mereka. Jadi mau tak mau, Hamida harus juga ikut membantunya dalam hal ini. Setidaknya itu meringankan sedikit beban di pundak ibunya.

Jadi, walau dia masih muda, Hamida telah memikirkan masa depan dan keluarganya tanpa ada rasa malu dan gengsi. Karena dia sadar, tak akan ada yang membantu mereka kecuali mereka sendiri yang berusaha. Terus berdoa dan berusaha, itulah yang diyakininya. Dia percaya Allah akan membantunya. Sebab mereka sanggup untuk menjalaninya. (SB/Rasy).

Comments

Tinggalkan Balasan