Franz Josef Von Hofler  Dari Jiwa yang Kosong ke Sufisme

sentralberita|Medan~Seutas tasbih terlihat berputar-putar di jari cemari tangan seorang lelaki bule itu. Tasbih berwara hitam itu terlihat begitu akrab dengannya. Tasbih itu berputar-putar menyentuh cincin yang melingkar di jari manisnya. Sesekali matanya terlihat tertunduk ke arah tasbih, sesekali juga mata menerawang ke atas.

Ketika ditemui, dia langsung mengulurkan tangan dan sambil mengucapkan, salam. Memang terkesan familiar.Dan dia juga menunjukkan dompetnya yang mirip dengan tas yang saya sandang ketika itu.

Meski dalam pertemuan singkat, tetapi dia mampu bercerita banyak tentang pengalaman hidup keagamaannya, termasuk tentang kekosongan jiwanya yang pernah dialaminya bertahun-tahun lamanya.

Adalah Dr Franz Josef Von Hofler seorang wrga Negara Amerika Serikat yang mengakui seorag penganut sufisme.Hofler yang berasal dari keluarga Khatolik itu ternyata sejak usia 14 tahun sudah mulai membaca berbagai buku keagamaan, baik Hidu, Budha, dan termasuk Islam.

“Waktu itu hati saya lagi kosong, dan ingin cari sesuatu untuk mengisi kekosongan hati ,”ucap Hofler dengan tenangnya.

Selain membaca buku-buku keislam, ternyata Hofler juga sebelum menganut Islam telah sering berdiskusi dengan orang-orang Islam yang ada di Amerika Serikat.

Buku-buku tentang keIslaman ternyata cukup menggelitik pemikirannya untuk terus mengenal agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Bagi Hofler, Islam ternyata agama yang mampu mengisi kekosongan jiwanya yang memang telah lama kosong.

Franz Josef Von Hofler ternyata sudah 20 tahun menjadi penganut Islam. Tepat pada bulan suci Ramadhan, Hofler mengucapkan dua kaimah syahadat di negerinya.Islam ternyata mampu memberikan ketenangan jiwanya yang pernah galau.

“Sekarang saya bangga dan bahagia karena dengan zikir,shalat , baca Alquran dan hadist, kekosongan hati menjadi terpenuhi,”ucap Hofler.

Sama seperti seorang yang telah terbiasa minum kopi, kalau tidak minum akan merasa linglung. Begitu juga dengan shalat saya,kata hofler yang memperoleh Phd dari Islamic Science, Malaysia itu.

Hofler mengakui, ketika shalat seorang diri, maka menemukan sesuatu yang enak, karena bisa bertemu dengan Allah.

“Keenakan yang saya rasakan ketika bertemu dengan Allah adalah yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata,”ucap seorang Educational Consultant di University Mecigan.

Meski mengaku seoragbrasionalis daam memahamai ajaran Islam, tetapi Hofler juga bisa meneteskan air mata ketik mendengar lagu-lagu keislaman yang dibawakan Sammi Yusuf.

“Ketika mendengar lagu Sammi Yusuf, saya jadi teringat Rasul ketika berkalwat di Gua Hira,”begitu kata Hofler sambil membuka lagu itu yang ada di Handphon-nya, lagu yang berjudul Hatinya Kembali ke Allah.(SB/rasyid)

Comments