Ari Pramaji Barus Menatap Hidup Penuh Perjuangan

Sentralberita|Medan~Lelaki berkulit kuning langsat itu sedari tadi terlihat duduk nyantai di bawah pohon besar persis di depan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU. Sesekali matanya menatap jauh ke depan, seperti dia melihat sesuatu. Namun seketika juga bola matanya mengikuti seribu kaki yang melangkah di hadapannya. Di raut wajahnya seakan juga menyimpan sejuta cerita tentang kehidupannya.

Adalah Ari Pramaji Barus, lelaki kelahiran Medan 21 Desember 1993 silam mengakui bahwa hidup adalah perjuangan. Karena itu katanya, semua orang semestinya harus menatap hidup dengan penuh optimis menuju kesuksesan.

Dia mengaku dalam perjalanan hidupnya yang telah menajak dewasa belum merasakan seperti apa yang dirasakan anak-anak seusianya yang penuh dengan kemewahan dari kehidupan orangtua mereka.

Ari tidak lebih adalah anak seorang buruh pabrik getah yang penghasilan ayahnya jauh dari cukup untuk sebuah kelayakan hidup. Ayahnya Rustam Barus memang sudah lama bekerja di perusahaan itu, tetapi malangnya tidak mengubah nasihnya menjadi lebih baik. Meskipun demikian Ari tak pernah menyesalkan kehidupannya.

Sedikit bercerita tentang kehidupan orangtuanya dimulai di daerah pemukiman rumah karyawan pabrik yang ada di kota Medan. Kota yang seharusnya pemukimannya sudah maju dan modern tapi justru di sini jauh terbalik, pemukiman ini lebih layaknya ditempatkan di pelosok pedesaan.

Aji nama panggilannya sehari-hari sudah menjalani hidup di rumah itu hampir 22 tahun, banyak keluh kesah yang sudah dialami selama menjalani hidup, terkadang dia merasa malu ketika temannya ingin berkunjung ke rumahnya, malu bukan karena tidak bersyukur karena mempunyai rumah yang kumuh tetapi dia mengkhawatirkan kenyamanan temannya yang datang disebabkan bau getah yang sangat tidak enak untuk dihirup dan juga tidak ada nya listrik di siang hari.

Orang tak menyangka kalau dia hidup di daerah yang cukup sederhana, karena sehari-harinya dia tidak memperlihatkan kekeluhan dengan hidup yang dijalaninya. Kesederhanaan hidup yang dijalani tidak menyurutkan dia untuk menjadi orang yang sukses dan menjadi kebanggaan orangtuanya. Hal itu dia buktikan prestasi yang sudah dia dapat dengan predikat juara kelas selama dia duduk di bangku sekolah dasar(SD) hingga masuk ke tingkat Tsanawiyah dan Aliyah dia masih konsisten walaupun tidak mendapatkan juara kelas tapi masih masuk dalam 3 besar.

Setelah menyelesaikan sekolahnya dia berencana ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, karena keadaan ekonomi dia mengurungkan niatnya, dia pun bekerja untuk mengumpulkan uang agar tahun depan dia bisa melanjutkan pendidikannya. Pekerjaan dia mulai menjadi seorang guru honor tempat dia sekolah, walaupun belum menyandang gelar sarjana tapi pemilik sekolah itu mempercayainya untuk mengajarkan pelajaran agama tingkat Tsanawiyah dan dia menjadi satu-satunya guru termuda yang mengajar di sekolah itu.

Selama 6 bulan sudah dijalani menjadi seorang guru, tetapi sepeser uang pun belum berhasil dia kumpulkan, karena gaji yang dia dapatkan hanya cukup untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dia pun mengkhawatirkan untuk bisa melanjutkan pendidikannya. Ketika itu ada seorang temannya menawarkan pekerjaan menjadi kuli di tempat pendistribusi alat-alat listrik, dia pun berpikir untuk menrima tawarannya bagaimana mungkin profesi seoarang guru yang derajatnya dimuliakan turun menjadi seorang kuli. Akhirnya dia menerima tawaran itu karena saat ini dia berpikir, dia bekerja untuk mencari uang bukan untuk mencari kemuliaan, maka itu langkah yang tepat yang ia putuskan untuk bekerja sebagai seorang kuli yang gajinya jauh lebih besar dari seorang guru honor yang tidak mempunya titel sarjana.

Disini dia baru mengalami letihnya bekerja untuk mencari uang, dan dia benar-benar merasakan apa yang ayahnya rasakan bekerja jadi buruh pabrik demi menyekolahkan anak-anaknya agar nasibnya tidak seperti yang dia rasakan. Enam bulan dia bekerja, dia semakin optimis untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang sudah ia cita-citakan sejak dulu, karena tabungan yang dia kumpulkan selama bekerja suadah lebih dari cukup untuk melanjutkan pendidikannya. Hingga akhirnya dia pun mendaftarkan di Institute Agama Islam Negeri Sumut yang sekarang sudah menjadi UIN Sumatera Utara dan dia diterima di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam.

Walau pun keadaan ekonomi sulit kalau kita yakin kita pasti bisa, maka tidak salah semboyan yang sering kita dengar setiap ada niat yang baik pasti Allah tunjukkan jalan” ucap lelaki yang terlahir dari pasangan Rustam Barus dan ibunya b Mariani ini.(SB.Rasyid)

Comments