Haslan Madli Tambunan, Seorang Jurnalis, Mengapa Memilih PSI…?

Sentralberita|Medan~Sejumlah teman-teman dekat bertanya secara langsung, apa betul ‘main’ di tahun 2019???

Pertanyaan itu terkadang membuat hati deg deg ser menjawabnya. Susah lah menjawabnya. Tapi, mau tak mau dijawab juga.

“Betul. Tapi baru sebatas coba-coba saja,” ucap awak.

“Dari partai apa,” tanya teman-teman lagi. Jawab awak, dari PSI.

“Apa itu PSI?,” sambungnya lagi. Dalam benak ku, pasti muncul lah pertanyaan itu.

Spontan ku jawab, PSI itu partai baru. Namanya Partai Solidaritas Indonesia atau PSI singkatannya.

“Oooo, partai baru itu ya,” tandas teman-teman.

Singkat cerita, awak ingin menjelaskan pada rekan-reman “Mengapa Memilih PSI” sebagai ‘sampan’ politik menuju 2019 untuk tingkat DPRD Medan.

Sebelumnya, melalui media sosial muncul iklan seperti ‘lowongan’ penerimaan Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) dari PSI. Penerimaan Bacaleg yang ditawarkan PSI tanpa “MAHAR”, itu yang membuat awak tertarik.

Ya namanya juga coba-coba. Ditest lah. Dengan melengkapi administrasi ujian yang dipersyaratan. Selain biodata pribadi juga diterakan sebuah tulisan berkaitan ‘Korupsi dan Intoleransi’. Pengisiannya secara online melalui laman psi.id.

Kalau menulis itu mah ‘makanan’ awak. Tanpa susah payah bisa dikerjakan dalam beberapa menit saja, karena sedikit tahu lah informasi mengenai yang namanya “Korupsi dan Intoleransi”.

Setelah di approve atau disetujui segala persyaratan yang dibutuhkan, lalu masuk balasan email secara otomatis. Intinya disuruh menunggu, apa berkas yg dibuat itu disetujui atau tidak.

Berselang beberapa minggu kemudian, masuk balasan kiriman dari internal partai via email. Bahwa disebutkan awak ‘LULUS’ dan masuk tahap berikutnya.

Hati pun bertambah deg deg kan… Mampu tidak melanjutkan ke tahap berikutnya. Yakni test (ujian) Wawancara.

Dalam persyaratan wawancara yang akan dihadapi, awak harus menyiapkan seperti proposal berisikan padangan ‘Korupsi dan Intoleransi’. Proposal tersebut diminta dipaparkan kelak dihadapan tim seleksi (timsel) independen yang disiapkan internal PSI.

Karena jarang membuat proposal, menjadi dilema yang cukup menguras pikiran, untuk dapat membuat proposal tersebut lebih menarik dengan muatan isi yang dapat diterima dengan logika.

Dengan mengucapkan Bismillah, waktu yang telah ditentukan pada test wawancara dihadapi lah tanpa beban. Tiba saatnya dipanggil. Hati mulai dag dig dug yg tak menentu. Dalam benak awak, selama ini awak yg mewawancarai orang, tapi sekarang awak lah kena wawancara.

Paparan makalah tersebut satu per satu dijabarkan dihadapan timsel dari kalangan akademisi hingga internal partai. Satu per satu pertanyaan awak hadapi dengan jawab spontan saja. Tercetus pun kala itu dihadapan timsel, sebenarnya awak ini ‘Benci’ yang namanya politik. Namun, mau tak mau harus terjun untuk belajar berpolitik, demi merealisasikan ‘cita-cita’ pengabdian.

Mungkin jawaban ‘polos’ awak membuat timsel ragu dengan untuk meluluskan. Jujur aja, awak di partai tidak punya ‘deking’ atau teman yg bisa dilobby-lobby.

Tuntas sudah perjuangan ditahap dua penjaringan Bacaleg PSI. Tinggal menunggu pengumuman hasilnya. Pendaftaran awak maju ini tidak ada yang mengetahui, selain istri. Awak tak ingin mengumbar ‘kabar-kabar’ tersebut, cukup Keep and Smile…

Berselang beberapa minggu kemudian, hasil ujian wawancara keluar. “Alhamdulillah, lulus”. Tapi, kelulusan itu dengan catatan verifikasi tambahan. Di mana awak disuruh menulis lagi secara luas seputar PSI dan juga pangsa ‘pasar’ PSI di Kota Medan.

Memasuki tahap ketiga, yakni Test Sosialisasi, mau tidak mau awak harus tampil ke publik. Menginformasikan diri bahwasanya mencalonkan diri sebagai Bacaleg untuk tahun 2019 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Test ketiga ini merupakan ujian paling mendebarkan. Mental diuji untuk menghadapi pemilih (masyarakat) baik di sekitar kampung sendiri maupun di luar.

Sang istri pun ikut juga dibuat pening menghadapi lika-liku perjuangan ini. Sampai-sampai meneteskan air mata, sepulangnya mensosialisasikan suaminya yang tak seberapa ini ke tengah masyarakat. Berharap dukungan dari masyarakat untuk memberikan ‘suaranya’ berupa secarik kertas fotocopy KTP berikut pengisian form dukungan yang ditandatangani.

“Sabar, ma”, ucap awak sama istri. Inilah cobaan yang harus kita hadapi dengan penuh kesabaran. Belum seberapa ini. Kita maklum aja, masih banyak masyarakat yang notabenenya berpikir ‘wani piro’ jika tahu kita ini mencalonkan. Pasti ada jalan lain. “Sabar aja. Doakan ada jalannya,” cetus ku.

Tahap ujian ketiga ini membutuhkan waktu dalam sebulan mengumpulkan minimal 100 KTP beserta Form Dukungan, dari ketentuan partai. Memang inilah tantangan terberat, mental dibuat down, yang harus memutarbalikan pikiran mencari jalan keluarnya.

Terbesit dibenak ingin melakukan kecurangan dengan menggunakan ‘The Power Journalist’. Mungkin dengan power tersebut, mungkin mudah mendapatkan itu semua. Sekali ngomong ke salah satu instansi, pasti dalam hitungan hari terkumpulkan itu semua. Jangankan 100 KTP, 1000 KTP pun dapat dengan mudah.

Tapi itu, tidak ingin kulakukan. Terbenak dipikirkan jika perilakukan menyimpang itu ku lakukan sama saja donk awak dengan orang-orang lain yang pernah melakukannya. Belum lagi duduk sudah melakukan kecurangan. “Itu tidak benar,” gumam ku menenangkan hati istri saat itu.

Ya, kita lanjutkan perjuangan ini dengan apa adanya. Lagian tidak terlalu berambisi untuk ‘JADI’. Biar lah seperti air mengalir. Rejeki itu tak kemana. Niat baik pasti berbuah hasil baik.

Terpikirkan untuk bagaimana menebar jaringan pertemanan, untuk membantu awak. Ya, bagi teman-teman yang tahu lah sosok awak. Satu per satu teman awak calling. Baik teman SMP di Muhammadiyah 7 Medan maupun teman SMA Negeri 7 Medan. Selain itu, kawan-kawan jurnalis juga ikut membantu.

Alhamdulillah ada jalan keluar. Ternyata teman-teman berpikir positif mengenai awak. Siap membantu tanpa ada iming-iming atau pamrih ini itu. Jalan sudah terbuka lebar, dengan usaha dan doa awak sama Sang Illahi. Awak berdoa, “Jika langkah ini Engkau ridhoi mudahkannya. Tapi, jika jalan ini menurut Engkau tak baik untuk hamba mu ini, maka jauhkan sejauhnya”. Minta ku sama sang Maha Kuasa.

Persyaratan tahap ketiga akhirnya terpenuhi. Bahkan melebihi dari target yang ditentukan partai minimal 100 dukungan. Tiba pada waktunya, seluruh berkas awak bawa ke internal partai sebagai hasil ujian test sosialisasi.

“Lega sudah bisa menjalani test ketiga ini. Sudah bisa tidur nyenyak la,” ucap awak sama istri dan keluarga. Tinggal menunggu hasil pengumuman akhir la. Lulus atau tidak itu mah sudah tak lagi jadi pikiran. Yang terpenting perjuangan.

Usai lebaran barulah hasil ujian tersebut diumumkan. Alhamdulillah, lulus diterima sebagai Bacaleg PSI Kota Medan untuk Daerah Pemilihan III, meliputi tiga kecamatan, yakni Medan Perjuangan; Medan Tembung; dan Medan Timur.

Usai pengumuman kelulusan, baru lah diminta oleh partai untuk mengurus seluruh kelengkapan administrasi pengajuan Bacaleg ke penyelenggara pemilu.

PSI sebagai partai baru yang lulus verifikasi keikutsertaan di Pemilu 2019 menjadi tantangan tersendiri bagi awak. Untuk dapat mengenalkan partai ke tengah masyarakat. Walau di lapangan ditemukan banyak masyakarat yang belum mengenal namanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Perlu awak sampaikan dalam tulisan singkat ini bahwa awak (saya) memilih PSI karena tawaran tanpa MAHAR. Jika ada MAHAR-nya, pasti awak tak akan maju atau memilih PSI sebagai sampan politik.

Inilah cerita singkat HASLAN MADLI TAMBUNAN mengapa memilih PSI dan ikut dalam Pencalonan Legislatif 2019.

Sekilas Tentang Haslan Madli Tambunan

Lahir di Kisaran pada 30 Mei 1985 silam. Terlahir dari keluarga sederhana pasangan ayahan Alm. Asmadi Tambunan dengan ibunda Halimah Tusadiyah Panjaitan. Anak paling bontot dari sembilan bersaudara. Tiga orang kakak dan 5 orang abang.

Menetap dan besar di Kota Medan, karena ayahanda pindah dinas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Kota Kisaran, ketika masih berusia dua tahun. Kini berdomisili di Asrama Kowilhan Jalan Sejati Kelurahan Sidorame Barat I Kecamatan Medan Perjuangan.

Baru 14 tahun menggeluti profesi Jurnalis di Kota Medan. Dan telah berkeluarga. Alhamdulillah diamanahkan tiga orang anak dari ‘hasil perut’ istri bernamakan Apriani Sikumbang. Dua perempuan dan satu laki-laki.

Demikian informasi singkat ini disebarluaskan. Terimakasih atas perhatian. Mohon doanya. (SB/Husni L).

Comments