Hina Nabi Muhammmad SAW, Martinus Gulo Diseret Ke Pengadilan dan Terancam Hukuman 9 Tahun

Sentralberita-Medan-Sidang lanjutan kasus dugaan penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW dengan terdakwa Martinus Gulo,  kembali digelar di ruang Cakra 2 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (10/7) sore.

Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi ahli dari Departemen Agama (Depag) Kota Medan, Solahuddin Siregar, dan dua orang dari FPI Kota Medan Rizatta Tripaldi dan Budi Hartono.

Solahuddin Siregar saat dimintai keterangan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Joice Sinaga menerangkan, tindakan yang dilakukan terdakwa Martinus Gulo dalam postingan di akun facebooknya dengan menyebutkan Nabi Muhammad bersetubuh dengan binatang tidaklah benar.

Menurutnya, hadist yang dikutip Martinus Gulo dapat disimpulkan sebagai fitnah. Hadist tersebut tidak pernah ada di dalam ajaran Islam. Dia juga hanya mengutip terjemahan, namun tidak ada hadist yang dimaksudkan.

“Berdasarkan redaksi yang ditujukan ke saya bahwa apa yang dipostingnya di Facebook, saya sudah tahu itu fitnah dan tidak benar. Dia mengutip Shahih Muslim, bab 7, halaman 1. Dalam hadist tidak ada seperti itu penulisannnya,” ucap Solahuddin di hadapan Hakim Ketua Saidin Bagariang

Dikatakannya, dalam penelitian berbagai hadist tentang kandungan isinya, bahwa dalam Islam berhubungan badan dengan binatang adalah dosa besar. Bahkan seluruh mazhab mengharamkan hal itu.

“Jadi tidak mungkin Nabi Muhammad berhubungan badan dengan Babi. Mana mungkin dia berzina dengan binatang  yang dosanya sangat besar,” ujar Solahuddin Siregar.

Ia berpendapat, hadist yang diposting terdakwa melalui akun Facebooknya merupakan hadist yang dibuat-buat. “Hadist bukan seperti itu,” tegas Solahuddin.

Sementara itu, Rizatta Tripaldi dan Budi Hartono mengatakan, akibat postingan Martinus Gulo membuat umat Islam merasa terhina, sehingga ia pun dilaporkan ke polisi. “Kami merasa terhina dengan postingan itu. Screenshot postingan itu kami dapat dari kawan-kawan melalui handphone,” ungkap mereka.

Sementara itu, usai mendengarkan keterangan para saksi. JPU Joice Sinaga menanyakan terdakwa apakah tahu dan sadar bahwa tindakannya itu bisa menimbulkan pertentangan dengan umat yang berbeda agama. Namun, terdakwa hanya menunduk dan tidak ada jawaban.
“Kalau kamu mahasiswa, mahasiswa seharusnya bisa berpikir dewasa,” kata Joice kepada terdakwa.

Hakim Ketua Saidin Bagariang,  juga ikut menimpali. Ia mengingatkan agar terdakwa selalu menjaga hati dan perasaan orang lain , apalagi berbeda agama. Namun, terdakwa malah menyanggah ucapan hakim.
” karena mereka yang  duluan mengatakan, Yesus itu anak haram,” ujar Martinus.

“Jadi yang membuat seperti itu sebagai bentuk pembalasan? Kamu merasa bersalah gak. Jangan lagi seperti itu, bukan harus kau balas dengan postingan seperti itu,”kata hakim ke Martinus.

Terdakwa juga diingatkan agar kuliah yang benar dan berdoa sesuai agama yang dianutnya dan jangan mengurusi yang bukan urusannya.

Diketahui,  Polrestabes Medan mengamankan Martinus Gulo, warga Desa Fanedanu, Kecamatan Somambawa, Kabupaten Nias Selatan, terkait dugaan kasus penghinaan agama lewat media sosial pada Maret 2018.

Martinus ditangkap atas laporan dari Front Pembela Islam (FPI) berdasarkan LP/589/III/2018/SPKT/Restabes Medan, tanggal 28 Maret 2018, tentang adanya pengguna media sosial yang menghina Nabi Muhammad SAW.

Dalam akun Facebook-nya, tersangka menuliskan status yang tak pantas menghina Nabi Muhammad SAW.

Satuan Reskrim Polrestabes Medan yang menerima laporan penghinaan itu langsung melacak keberadaan pemilik akun Facebook yang menghina umat muslim tersebut. Dari penyelidikan, petugas berhasil meringkus pelaku di kos-kosannya Jl. S. Parman, Gang Rustam, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah.

Hasil pemeriksaan terhadap tersangka, bahwa dia mengaku sakit hati karena agamanya kerap dihina melalui media sosial, sehingga Martinus nekat melakukan aksi balas dendam. Atas perbuatannya, tersangka  dijerat dengan UU ITE dengan hukuman maksimal hukuman penjara 9 tahun. (sb/FS)

Comments

Tinggalkan Balasan