Memelihara Kerukunan Pasca Pilkada Serentak

Oleh Yonge L. V. Sihombing, SE, MBA
sentralberita|Medan~Istilah rukun, kerukunan sudah tidak asing lagi bagi kita. Kata rukun, seringkali digunakan oleh orang tua, saat memberikan nasehat kepada anak anaknya. Misalnya, orang tua mengucapkan frasa kalimat, “hai anak anakku, kalian harus rukun, antara kakak dan adik, agar kami, sebagai orang tua, senang dan bahagia”. Artinya bahwa rukun (kerukunan) itu, merupakan sebuah nilai yg diharapkan oleh orang tua kepada anak anaknya.

Kata kerukunan berasal dari bahasa arab ruknun (rukun) kata jamaknya adalah arkan yang berarti asas, dasar atau pondasi (arti generiknya). Kerukunan adalah sikap saling menghormati dan menjaga ketertiban dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Agar kerukunan dapat terjadi maka sebaiknya menjaga perilaku yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Hari Kerukunan Nasional
Karena begitu pentingnya nilai kerukunan, maka Indonesia, bersepakat menetapkan setiap tanggal 3 januari dinyatakan sebagai hari kerukunan nasional.

Hari Kerukunan Nasional bertujuan untuk menggelorakan semangat kerukunan dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyadari bahwa kita semua tidak boleh lalai dengan ancaman yang mengganggu kerukunan. Gangguan itu berasal dari benih-benih pertentangan dan kesenjangan dalam masyarakat yang berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan.

Kerukunan yang sudah ada di Indonesia itu bukan lagi dalam skala nasional, tetapi sudah dalam level  internasional. Sebab, kerukunan di Indonesia adalah yang terbaik di dunia.

GKB Gelorakan Gerakan Kerukunan
Mengingat pentingnya untuk terus menggelorakan kerukunan di Indonesia, maka pada hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2018 telah dibentuk sebuah organisasi masyarakat, bernama, Gerakan Kerukunan Bangsa, disingkat dengan GKB.

Saat deklarasi, Fernando Simajuntak, selaku Ketua DPD GKB Sumut, mengatakan bahwa masyarakat sumatera utara harus rukun, agar roda pembangunan dapat berjalan dengan baik. “Rukun saja belum tentu membuahkan hasil yang baik, apalagi tidak rukun, maka semakin tindak mungkin membuahkan hasil yang baik”, kata Fernando dihadapan puluhan pengurus yang dilantik.

Deklarasi gerakan kerukunan Bangsa, kata Fernando, bertujuan untuk menyatukan beberapa elemen dan masyarakat sekecil apapun. Baik dia itu dari pemerintah, pengusaha, instansi TNI dan Polri. Jadi, dengan adanyan kerukunan bangsa ini bisa dapat di sinergikan. Intinya, kita ajak seluruh masyarakat dan pemerintah, pengusaha, TNI dan Polri untuk rukun.

“Harapan saya untuk kedepanya, kita akan membangun SDM masyarakat. Karena, SDM ini sangat penting sekali. Soalnya untuk menjadi Stakeholder harus mempunyai SDM. Agar dapat membangun kerukunan” Kata Ketua (GKB), Fernando Simanjuntak.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Pantia Deklarasi, Farhan, mengatakan bahwa gerakan kerukunan menjadi penting di Sumatera Utara. “Sumut dengan keberagaman, harus tetap rukun”, kata Farhan yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD GKB Sumatera Utara.

Pidato Jokowi Jelang Pilkada Serentak
Saat berkunjung di Kabupaten Tegal, Presiden Joko Widodo berpesan agar seluruh lapisan masyarakat tidak terpecah belah karena Pilkada. “Saya titip kepada masyarakat, dalam memilih jangan sampai membuat tidak rukun antarsesama. Antar tetangga jadi ribut, anak sama orangtua tidak rukun karena beda pilihan,” ucap Jokowi.

Menurutnya, pemilihan secara langsung merupakan sistem negara demokrasi yang dianut Indonesia. Namun, hal itu, jangan sampai membuat antar warga jadi berantem. Jokowi menegaskan, masyarakat harus mengikuti hati nurani untuk memilih pemimpin. “Pilih pemimpin yang terbaik. Namun jangan meretakan hubungan karena beda pilihan. Jokowi menegaskan bebas memilih siapa saja asalkan menjaga persaudaraan.

Rukun Pasca Pilkada Serentak 2018

Pertama, mendamaikan perbedaan pilihan, menjadikan persatuan, meski berbeda pilihan. Tetap bersatu hati, sebagai sebuah keluarga besar, yaiu keluarga besar Sumatera Utara dan Indonesia.

Kedua, seluruh masyarakat pemilih, dan calon yang akan dipilih, bahwa perbedaan pilihan, dan hasil pemilihan tidak mengganggu nilai nilai kebersamaan, kekeluargaan dan sosial.

Ketiga, saling pengertian, serta menerima dengan ketulusan hati yang penuh ke ikhlasan setiap perbedaan pilihan.

Keempat, pasca pilkada serentak 2018, kebersamaan harus tetap terpelihara, pola-pola interaksi yang sudah ada, tetap berjalan.

Kelima, sikap saling menerima perbedaan pilihan, saling mempercayai sesama, walau berbeda pilihan saat pilgubsu, saling menghormati dan menghargai perbedaan pilihan, serta sikap saling memaknai kebersamaan walau ada perbedaan saat memilih pilihan.

Penutup
Akhirnya, marilah Kita warga Sumatera Utara, yang tercinta untuk secara bersama sama membangun semangat kerukunan di Sumatera Utara, pasca pilgubsu dan pilkada serentak, yang kita laksanakan pada hari ini, Rabu, 27 Juni 2018. Walau berbeda pilihan, tapi tetap rukun. Dan, siapa pun gubsu dan wagubsu yang terpilih, mari kita hormati, kita dukung, dan kita doakan. (Penulis Adalah Dewan Penasehat DPD GKB Provinsi Sumatera Utara)

Comments

Tinggalkan Balasan