Hebatnya Cinta dan Pengorbanan Wanita dalam Film “ Padmaavat”

Bersama suami tercinta nonton Film “ Padmaavat”. Setelah nonton terinspirasi sebuah tulisan

Oleh : Evi Khairani, S,Pd

Sentralberita| Medan~Sejak Kecil aku memang sudah menyukai sesuatu yang berbau India, mungkin karena orang tuaku pernah mengatakan, “kami masih ada keturunan Indianya dari buyut kata Ibuku”. Aku sendiri tidak percaya karena kami tidak pernah melihat foto buyut hanya kenal dengan anaknya buyut yaitu kakak nenek dan nenekku sendiri  orangtua ibuku.

“Kalau kulihat memang wajah, alis, hidung bahkan besar pinggul dari nenek sampai ke anaknya memang ciri wanita India. Itu sih tidak kupermasalahkan,malah bersyukur ternyata aku  darah blasteran”.

“Tapi bukan karena riwayat keluarga yang masih keturunan India makanya aku suka yang berbau India, akan tetapi sejak aku kecil  memang sudah suka memutar lagu india yang aku sendiri tidak pernah tau judulnya dan orang tua kami pun dahulu  suka mengajak kami menonton film India”.

Dahulu, ada bioskop yang namanya Hirako yang berdekatan dengan Pasar Sore Padang Bulan dan Bioskop Karimata Pasar 5 Padang Bulan yang sudah lama tutup karena sudah termakan zaman,di kedua Bioskop itulah kami sekeluarga sering menonton film.Kini Nama Bioskop lebih tren dengan nama Cinema XXI dengan fasilitas yang memanjakan penonton yang berkunjung kesana.

Sampai berumah tanggapun aku masih hobby menonton di bioskop dan ternyata suamiku juga punya hobby yang sama. Klop deh jadinya… Minggu siang  kami memutuskan untuk pergi menonton di salah satu cinema XXI di Medan,kayak nyoya dan tuan pergi nonton berdua.

Banyak ragam film yang akan diputar dicinema itu, sejenak aku memilih dan mataku tertuju pada satu judul  film India “ PADMAAVAT”. Aku meminta persetujuan suamiku untuk menonton film itu dan ternyata  suamiku juga suka dengan  pilihanku.

Terlepas dari kontroversi yang ada di belahan negara baik di negara India sendiri tentang pemutaran film Padmaavat ini. Saya hanya melihat dari sisi   cinta dan pengorbanan wanita India dijalin dalam balutan estetika yang dikemas apik oleh sutradara India Sanjay Leela Bhansali dan sekaligus menulis cerita dalam film  “ PADMAAVAT “ ini bersama Prakash Kapadia  memang sungguh aduhai dengan suguhan musik ,tarian yang gemulai dan lagu yang menawan.

Ratu Padmavaati (Deepika Padukoke  ) sosok  ratu terindah, pintar dan berani dari kerajaan Rajput diwilayah Mewar  yang kecantikannya sampai tersiar kepada raja Alauddin Khilji  (Ranveer Singh) Kesultanan Delhi, yang ingin sekali melihat wajah sang ratu dari dekat, dan berusaha mendapatkan sang ratu.

Tetapi itu mustahil karena sang ratu adalah istri dari Raja  Rana Rawal Ratan Singh ( Shahid Kapoor) dan merupakan kebanggaan dari kerajaan Rajput.

Berbagai cara pun dilakukan. Saat Raja Rajput ditahan ,Rani Padmavaati diminta  datang ke kerajaan Sultan Alauddin Khilji sebagai jaminan pembebasan raja, tetapi Setelah Raja Rajput bebas ,sultan Alaudddin tak kunjung bertemu dengan ratu Padmavaati tersebut karena  Mehrunnisa ( Aditi Rao Hydar) istri dari Sultan Alauddin Khilji membantu mereka melarikan diri. Karena tidak mau dimadu  Ratu Mehrunnisa lebih rela mengorbankan dirinya dijebloskan kedalam penjara bawah tanah oleh suaminya sendiri Sultan Alauddin Khilji.

Karena tidak juga mendapatkan apa yang diinginkannya akhirnya perang besarpun terjadi diantara kedua Kerajaan. Raja Rana Rawal Ratan Singh gugur dalam peperangan itu. Yang menyebabkan Ratu Padmavaati beserta puluhan wanita melakukan ritual jauhar yaitu sebuah ritual pengorbanan diri   masuk kedalam kobaran api disebabkan suami  kalah perang. Jauhar adalah satu-satunya cara perempuan Rajput kala itu  untuk menjaga kehormatan mereka dan dipandang sebagai kesetiaan istri pada suami mereka.

Begitulah Hebatnya cinta dan pengorbanan dari  Ratu Mehrunnisa yang rela ditahan dibawah tanah dan Ratu Padmavaati beserta puluhan wanita lainnya  melakukan jauhar demi kehormatan mereka. Sungguh Luar biasa. (Penulis adalah pengurus DKSU dan Kepala Sekolah Dasar rezky Ananda Medan)

 

 

Comments

Tinggalkan Balasan