Diduga Mal Praktek, Nomi Milala Alami Ciri-Ciri Stevens Johnson Sindrom

Nomi Milala pasien RSUP Adam Malik yang diduga Korban Mal Praktek yang memiliki ciri-ciri penyakit Stevens Johnson Sindrome, Kulit Melepuh dan Mata Memerah

Sentralberita| Medan~Nomi Milala seorang warga Jl. Ncole VIII, Kel. Kemenangan Tani, Medan Tuntungan hanya bisa terbaring lemas di atas kasur dengan bantuan suling gaster tepat di hidungnya untuk bisa mencerna makanan di Ruang Rindu A 1.2 RSUP Adam Malik, Medan.

Ibu 54 tahun ini harus mengalami penderitaan yang sangat dimana seluruh tubuhnya melepuh dan mulai merah keunguan seperti menghitam, bibirnya tampak bernanah dan seperti membusuk. Terlihat Matanya juga berwarna merah . Sesekali tampak cairan keluar dari lepuhan yang terbuka. Wajah tampak mulai membengkak.

Ciri-ciri ini mirip dengan orang yang mengalami penyakit Stevens Johnson Sindrome (SJS). Penyebab SJS sendiri adalah karena alergi obat-obat tertentu, biasanya adalah penggunaan obat antibiotik. Ditandai Bentol-bentol berisi cairan, ruam kulit berwarna kemerahan atau keunguan, pembengkakan wajah dan lidah dan Pengelupasan kulit. Dimana jenis penyakit ini masih langka ditemukan di Indonesia.

Anak kedua pasien, Tison Sembiring ini menjelaskan, bahwa awalnya ibunya mengalami stroke ringan di sebelah kiri tubuhnya dan dibawa ke RSUP Adam Malik pada 6 Januari 2018.

“Kronologi awalnya, di tanggal 6 ibu saya ini kejang-kejang dan akhirnya dibawa kesini dengan diagnosa penyumbatan saraf di sebelah kiri dapat dikatakan stroke dan juga gula,” katanya, Rabu (31/1/2018).

Usai ditangani di IGD dan ruang Stroke Corner di Rindu A lantai 2 selama 3 minggu akhirnya Nomi Milala mulai mengalami kepulihan setelah di terapi. “Setelah ditangani dengan terapi selama beberala hari stroke dan gula ibu saya mulai turun yang awalnya 500 lebih menjadi 100. Dan akhirnya tanggal 24 Januari diperbolehkan untuk pulang,” jelasnya.

Pada saat diperbolehkan pulang, Tison menerangkan keluarga diberikan 6 jenis obat untuk dikonsumsi ibunya selama masa pemulihan.

Pada malam kepulangan mereka, Tison memberikan obat sesuai resep yang diberikan dokter. Namun apa yang terjadi Nomi malah mengalami demam tinggi dan mulai menggigil.

Keesokan harinya, tanpa curiga dengan obat tersebut. Keluarga masih memberikan kepada ibunya namun apa yang terjadi pada 25 Januari, mata Nomi mulai mengalami kemerahan dan mengeluarkan kotoran mata hingga hampir tak dapat melihat.

“Tanggal 25 tepatnya pagi hari, matanya merah dan mengeluhkan panas. Sorenya mulai mengeluarkan kotoran mata hampir tak tertutup semua matanya,” jelasnya.

Malam harinya dijelaskan, Tison ibunya meminta untuk dibawa ke rumah sakit karena sudah muntah dan mual-mual. Disitu mulai terlihat bintik-bintik di sekitar dada dan leher yang sebelumnya belum pernah ada.

“Sampai 25 malam, antar lah aku ke rumah sakit karena muntah dan mual kata ibu sama ku. Disitu bintik-bintik hitam di dada dan leher sudah mulai bermunculan. Karena sudah malam kali, tidak ada kendaraan kami jadi tidak kami bawa,” terangnya.

Keesokan harinya, tepat 26 Januari 2018 pukul 04.00 keluarga membawa Nomi kembali dirawat di Adam Malik. Sesampai di IGD keluarga mengeluhkan penanaganan yang lambat dari para pihak rumah sakit.

“Di ruang IGD infus lama dimasukkan, 15 menit juga belum ditangangani. Padahal disini kami sudah ketakutan karena ibu sudah demam tinggi hampir 39 derajat,” tegasnya.

Usai dirawat sehari, barulah keluarga pasken dijelaskan bahwa penyebab kondisi pasien adalah alergi dari obat.

“Tanggal 27 Januari panas lagi, sudah meriang tapi tidak ada suster yang memperhatikan. Ada dokter saya tidak tahu namahya sangat lambat sekali menangani jalannya. Setelah dicek ternyata panasnya mencapi 40,3 hampir step kan,” jelasnya.

“Pada waktu itu juga saya diberitahukan dokter Hanif Wibowo bahwa penyakit ibu saya ini akibat alergi obat dari 6 jenis obat itu,” tambahnya.

Bukannya semakin membaik, tepat 28 Januari kulit Nomi semakin melepuh sekujur tubuhnya sudah mulai menghitam seperti terbakar. (SB/01/Trib)

 

Comments

Tinggalkan Balasan