Dua Mahasiswa Universitas Rotterdam Temukan Solusi Atasi Banjir

Sentralberita| Jakarta~ Dua mahasiswa University of Rotterdam Belanda, Nigel Dierks dan Rowdy Wesley Baan melakukan penelitian terkait banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo. Selama kurang lebih empat bulan, mereka berada di Kampung Sewu dan Mipitan Sewu, Kecamatan Jebres, Solo untuk membantu mencarikan mengatasi banjir.

Penelitian yang dilakukan secara intensif tersebut menghasilkan sebuah rekomendasi. Pemerintah Kota Solo disarankan agar membangun sistem penyimpanan air (water storage) disekitar daerah banjir.

Water storage tersebut akan bermanfaat untuk mempertahankan dan mengurangi banjir. Caramya dengan bantuan tube barrier, pompa dan gaya gravitasi.

“Water storage dengan intervensi tube barrier, pompa, dan gaya gravitasi dapat mengurangi banjir,” ujar Nigel saat ditemui di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Selasa (8/1).

Penyimpanan air yang direkomendasikan tersebut terdiri dari dua jenis. Penyimpanan berkapasitas kecil untuk ditempatkan di sekitar daerah banjir, dan yang berkapasitas besar di luar kota.

Sistem penyimpanan yang direkomendasikan sederhana. Yakni, dengan membuat sudetan pada sungai Bengawan Solo dan saluran ke daerah khusus resapan. Baik yang berkapasitas kecil maupun berkapasitas besar.

Kedua mahasiswa itu menghitung, pada saat banjir jumlah air yang tidak tertampung di Bengawan Solo mencapai 4 juta meter kubik. Untuk menampung air itu dibutuhkan areal penyimpanan 4,11 kilometer persegi.

Ketika tinggi muka air sungai Bengawan Solo mencapai level siaga, pintu sudetan bisa dibuka dan kelebihan air akan masuk ke area penyimpanan. Dengan cara ini ketinggian muka air Bengawan Solo dapat dipertahankan agar tidak meluap ke pemukiman.

“Sistem seperti ini juga diterapkan di negara kami, Belanda. Di sana kelebihan air disimpan di bawah-bawah kota,” jelas Nigel.

Mahasiswa jurusan water management ini menilai, hal serupa juga dapat diterapkan di Solo. Namun, untuk menekan biaya disarankan penyimpanan air dibangun di lahan yang masih kosong.

“Letak geografis dan sistem perlindungan yang belum memadai menjadi penyebab banjir di Solo. Kalau tidak ada intervensi dalam beberapa tahun ke depan bisa lebih buruk, karena kita menghadapi perubahan iklim,” imbuh Rowdy.

Nigel Dierks dan Rowdy Wesley merupakan mahasiswa program tahunan yang bekerjasama Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan University Of Rotterdam.

Selama melakukan penelitian 2 mahasiswa tersebut di bimbing oleh Dosen FT UNS Dr Eng Kusumaningdyah Nurul Handayani , Dr Ir RR Rintis Hadiani dan Dr Techn Ir Sholihin As’ad. (SB/mc)

Comments

Tinggalkan Balasan