Batik Zaman Now Dimodifikasi & Kolaborasi

Sentralberita| Medan~Sekilas batik-batik Solo yang dipajang pada salah satu stand bazaar di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Medan ini terlihat biasa saja. Tapi, siapa sangka ditangan perempuan kelahiran Solo ini batik bisa disulap jadi limited edition untuk ikut-ikut event fhasion show.

Maya Ratna Batik begitu perempuan yang berusia tiga puluh tiga tahun ini menamakan lable busana batiknya. “ Maya Ratna batik ini saya dirikan tepatnya enam tahun yang lalu di Solo,” ujar Maya mengaku sengaja mencantumkan namanya sendiri untuk batiknya.

Menurut Ratna, walau Solo dikenal dengan baitknya. Tapi, “ hanya sekitar 25 persen saja pengrajin batik di Solo. Ciri khas batik Solo saya yakni pada setiap motifnya. Ada motif klasik, motif teruntung, motif para dan lain-lain,” ujar alumni dari Universitas Muhammadyah Surakarta ini.

Khusus untuk koleksi batiknya pada bazar kali ini. Maya menjual batik-batik yang sudah kolaborasi atau dimodifikasi. “ Antara klasik dan modern dipadukan sehingga motifnya jangan terkesan monoton karena konsumen bosan untuk beli batik. Saya juga mengkolabirasikan motif klasik dengan motif-motif moderen,” cetus perempuan yang ditemui di stand bazarnya, kemarin.”

Saat ini sudah zaman now, jadi batik harus dikolaborasikan. Apalagi design Maya terkesan wha, sehingga perempuan yang sering ikut bazar di Medan ini sering mengadakan fhasion show di Solo untuk memperkenalkan busana-busana batiknya.

Begitupun, sebelum menekuni batik, perempuan ini sudah menggeluti usaha salon dan kuliner. Namun,” saat ini hanya usaha batik yang lebih berkembang. Sehingga saya harus serius di bisnis batik,” paparnya.

Menurut Maya, filosofi batik bagi dirinya adalah suatu maha karya yang harus dilestarikan. Apalagi,” batik-batik ini semua ada nama-namanya. Seperti batik Parang digunakan oleh para raja-raja untuk jamuan acara resmi di keraton. Untuk menggoreskan canting tidak bisa hanya sekilas menggoreskan saja. Canting di atas kain itu ada arti dan maknanya.”

Bagi Maya, untuk canting itu bisa dilakukannya. “ Cuma, saya konsentrasinya lebih ke design saja. Setelah di design lalu dilempar ke assisten saya. Biasa dalam 1 minggu saya bisa design 5 motif batik. Ada juga model-model baru yang di upload setiap bulannya,” ujar Maya mengaku dia belajar batik ini secara otodidak.

Saat dirinya bekerja beberapa waktu yang lalu, hampir setiap hari Maya mengenahkan baju batik. Tapi,” untuk selalu belanja batik pastilah mahal. Akhirnya saya design sendiri batik itu. Alhamdulillah.. orang banyak yang suka dengan design batik saya. Semua memang serba kebetulan saat saya ketemu dengan pengrajin, saya lalu minta dijahitkan.”

Untuk memasarkan batiknya perempuan mandiri ini harus putar-putar dari Solo, Jakarta, Medan dan Bali.  “ Baju batik saya dibanderol mulai dari Rp 150 ribu, kemeja tulis Rp 450 ribu hingga design unlimited untuk fhasion show mencapai Rp 5 juta karena produk tulis yang dikombinasikan dengan payet dan prada,” ujar Mayar Ratna mengaku batiknya selalu dibawa temannya ke Belanda untuk dijual disana.

“ In Shaa Allah, Februari nanti saya akan buka cabang di Medan. Karena pasaran batik di Medan masih banyak dan luas,” cetus Maya mengaku di Solo cabangnya ada 3 dan 1 di Jakarta.

Harapan Maya sebagai putri Jawa, dia harus terus melestarikan batik ini. “ Kebetulan saya berasal dari Solo, jadi saya berkewajiban melestarikan batik sebagai warisan budaya,” jelas Maya.( Debbi Safinaz )

 

Comments

Tinggalkan Balasan