45 Tahun PPP: Lahirkan Politisi Perempuan ‘Singa Betina dari Senayan’

Sentralberita| Jakarta~ Hari ini, tepat pada 5 Januari 2018, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berusia 45 tahun. Sebuah usia yang tergolong matang dalam menghiasi percaturan politik di Indonesia.

Partai yang berlambang Kakbah ini lahir pada 5 Januari 1973 dari fusi empat parpol Islam, yakni Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Persatuan Tarbiyah Islamiah (PERTI).

Fusi merupakan kebijakan Orde Baru untuk tujuan stabilitas politik dengan penerapan azas tunggal Pancasila. Empat partai Islam pun harus berfusi menjadi PPP untuk bertahan hidup demi menyelamatkan saluran politik umat.

Dalam perjalanannya, PPP memiliki peran sentral dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. Sebagai satu-satunya saluran politik Islam era Orde Baru, PPP menjadi ikon perlawanan terhadap kesewenangan pemerintah.

Sikap politik PPP terlihat dari perjuangannya di parlemen yang mampu mengawal aspirasi umat Islam. Salah satu perjuangan PPP yang cukup fenomenal ketika menolak upaya legalisasi pernikahan beda agama dalam UU Nomor 1/1974 tentang Perkawinan.

Setelah sembilan kali ikut pemilu, PPP banyak melahirkan tokoh-tokoh hebat yang disegani. Salah satu kader terbaik PPP, Hamzah Haz pernah menjabat sebagai Wakil Presiden (2001-2004).

Tak hanya itu, PPP juga melahirkan politisi perempuan yang cukup disegani selama Orde Baru, yakni Aisyah Amini. Atas suara lantangnya dalam memperjuangkan kebijakan menyangkut kepentingan rakyat dan kesetaraan gender, Aisyah mendapat julukan ‘Singa Betina dari Senayan’.

Reformasi politik pada 1998 menyebabkan munculnya parpol-parpol baru. Kekuatan yang berhimpun di PPP terberai membentuk parpol baru yang serupa ataupun memiliki nafas perjuangan serupa.

Banyak kalangan memprediksi PPP akan hilang ditelan bumi. Bahkan setiap menjelang pemilu banyak lembaga survei memperkirakan PPP tak akan bertahan di Senayan.

Namun, semua prediksi tersebut tak pernah terbukti. Hasil Pemilu 1999 dan Pemilu 2004 masih menempatkan PPP dalam urutan tiga besar perolehan kursi DPR.

Hal ini menandakan kuatnya infrastruktur partai hingga tingkat desa atau kelurahan. Spirit PPP sebagai alat perjuangan politik umat Islam tetap bertahan.

Di antaranya, PPP menjadi pelopor lahirnya sejumlah UU yang selaras dengan Islam, di antaranya UU Anti Pornografi, UU Perbankan Syariah, UU Zakat, UU Haji, UU Jaminan Produk Halal dan lainnya. Saat ini pun, PPP menjadi pelopor pembahasan RUU Larangan Minuman Beralkohol maupun RUU Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren.

Pemilu 2009 boleh dibilang periode terburuk bagi PPP karena kehilangan 20 kursi dari 58 menjadi 38 kursi sehingga harus terlempar dari tiga besar. Pemilu 2014 PPP berusaha bangkit dengan berhasil menaikkan jumlah kursi dari 38 menjadi 39 kursi.

Setidaknya ada dua faktor penyebab, pertama faktor eksternal berupa perubahan sistem pemilu dari tertutup menjadi terbuka yang menyebabkan persaingan semakin kompleks. Kedua, faktor internal yakni regenerasi yang mengalami keterlambatan. PPP selalu identik dengan partai tua sehingga kurang diminati kalangan muda.

Pemilu 2009 merupakan era dimulainya transisi dari generasi pertama ke generasi kedua dengan tampilnya politisi muda di panggung nasional. Proses regenerasi berlanjut ke Pemilu 2019 dengan semakin banyak munculnya wajah-wajah baru politisi PPP menghiasi pemberitaan media.

Proses regenerasi internal membuncah ketika M Romahurmuziy (Romi) terpilih sebagai ketua umum termuda sepanjang sejarah PPP di usia 40 tahun pada Muktamar VIII Surabaya. Ketika terpilih kembali dalam muktamar islah di Pondok Gede pada April 2016, usia Romi baru 41 tahun lebih tujuh bulan.

Di bawah kendalinya, PPP mengalami tantangan terhebat sepanjang sejarahnya, yakni dualisme kepengurusan sepanjang tiga tahun. Ibarat pepatah, ‘Pelaut yang tangguh tidak akan lahir dari laut yang tenang, tapi lahir dari laut yang penuh gelombang’.

Setidaknya, saat ini dualisme PPP telah berakhir dengan terbitnya putusan Kasasi MA Nomor: 514 K/TUN/2017 tanggal 4 Desember 2017, maka kepengurusan PPP yang diakui secara hukum adalah hasil Muktamar Pondok Gede di bawah kepemimpinan Romi-Arsul Sani.

Menakhodai PPP di tengah badai konflik selama tiga tahun, bukanlah perkara mudah. Namun, setidaknya terlihat asa membubung tinggi bahwa PPP akan tetap eksis. Tak pelak, banyak apresiasi terhadap kemampuan Romi membawa PPP tetap tegar diterjang badai.

Sekretaris Majelis Syariah DPP PPP Lukman Hakim Hasibuan mengatakan, memimpin sebuah parpol Islam seperti PPP tidak cukup hanya memiliki kemampuan manajerial. Lebih dari itu, ketua umum PPP harus memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang Islam. Dia menilai, perpaduan kemampuan manajerial dan pengetahuan keislaman tersebut ada pada sosok Romi.

“Romi ini figur langka, anak teknik memiliki kemampuan keislaman yang kuat. Beginilah yang cocok untuk memimpin PPP. Pidato politik dan pidato agamanya sama bagus,” kata Lukman.

Usia Romi 40 tahun saat terpilih sebagai Ketua Umum PPP pada Muktamar VIII Surabaya (Dok. PPP)Usia Romi 40 tahun saat terpilih sebagai Ketua Umum PPP pada Muktamar VIII Surabaya (Dok. PPP)
Karena itulah, sedari awal dirinya selalu setia berada di belakang Romi meskipun secara materi kalah dibanding Djan Faridz. Sebab, bagi Lukman untuk PPP dibutuhkan pemimpin yang berkarakter, bukan hanya soal materi.

“PPP ini partai ideologis berbeda dengan partai lain. Ini perlu diingat oleh kader,” tukas Lukman.

Pujian Lukman bukan sekadar isapan jempol. Terbukti, selama kepemimpinan Romi, PPP tetap menjalankan agenda konsolidasi meskipun diterpa badai. Bahkan, kegiatan kaderisasi berupa pelatihan tingkat utama, tingkat madya, dan tingkat dasar dilakukan secara simultan di seluruh Indonesia.

Bahkan, dalam sejarah PPP kepengurusan periode ini paling massif melakukan konsolidasi dan kaderisasi.

Wakil Sekjen DPP PPP Bidang OKK Achmad Baidowi mengatakan, konsolidasi PPP sudah dilakukan hingga tingkat desa atau kelurahan. Hal itu terbukti dari hasil verifikasi KPU yang menyatakan PPP lolos memenuhi persyaratan sebagai calon peserta Pemilu 2019.

“Hampir tiap dua hari sekali Ketum Gus Romi konsolidasi di berbagai provinsi. Begitupun pelatihan kader madya dan pelatihan kader dasar dilakukan secara masif secara serentak di seluruh daerah. Ini kami lakukan sebagai bagian dari target tiga besar,” terang anggota Komisi II DPR ini.

Di usia ke-45 ini, PPP terus mengepakkan sayapnya untuk selalu mengabdi kepada rakyat Indonesia. PPP tak hanya memikirkan kepentingan kelompok namun juga untuk Indonesia. Setidaknya, hal tersebut tercermin dalam tema hari lahir ke 45 PPP. ‘Mari Bersatu Membangun Indonesia’.(SB/dtc)

Comments

Tinggalkan Balasan