Bupati Suruh Anaknya Bermalam di Rumah Janda Miskin

Sentralberita| Purwakarta~ Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyuruh anak sulungnya, Ahmad Habibie Bungsu Maula Akbar (18) berkunjung sekaligus bermalam mingguan ke rumah seorang janda bernama Yati (49), warga Gang Nusa Indah IV, Kelurahan Nagri Kaler, Purwakarta, Sabtu (2/12/2017) malam.

Maula, sapaan anak sulungnya, tak canggung bercengkrama dengan janda enam anak tersebut yang mengisahkan seluruh kesulitan hidupnya selama ini.

Diketahui bahwa anak kedua ibu tersebut, Ilham (16), membutuhkan biaya untuk membayar tunggakan biaya sekolah di SMK dan terancam tidak bisa mengikuti ujian di sekolahnya.

Selama ini, Yati masih membiayai kelima anaknya yang masih bersekolah, sedangkan anak pertamanya sehari-hari mengais rezeki menjadi seorang pengamen.

“Ini kisah tentang kidz zaman now yang tadi malam bermalam mingguan di rumah seorang janda setengah tua,” ujar Dedi Mulyadi pada Minggu (13/12/2017).

Maula mendapatkan tugas khusus dari sang ayah untuk memberikan bantuan biaya sekolah kepada anak kedua janda tersebut yang terancam tak bisa ikut ujian. Tunggakan SPP dan biaya UTS sebesar Rp 4.775.000 diserahkan langsung ke rumah janda tersebut sembari mendengarkan seluruh keluh kesah ibu tersebut.

Maula yang ditularkan kebiasaan ayahnya memberikan bantuan kepada warga miskin tersebut merasa terharu mengetahui salah satu pekerjaan ayahnya langsung sebagai kepala daerah seperti ini.

“Saya bangga memiliki ayah sebagai kepala daerah, salah satunya selalu memberikan bantuan kepada warga miskin yang sangat membutuhkan,” kata Maula.

Kondisi Ilham awalnya diketahui oleh Dedi karena adiknya, Intan (14) yang nekat mencegat orang nomor satu di Purwakarta itu saat meninjau rumah tidak layak huni di lokasi yang sama sehari sebelumnya.

Sembari menangis, Intan bercerita bahwa Ilham terancam tidak bisa mengikuti ujian di salah satu SMK swasta di Purwakarta karena belum membayar tunggakan biaya sekolah.

“Terima Kasih kepada Pak Bupati, bantuannya sudah diterima tadi malam. Besok (Senin) kakak saya bisa ikut ujian di sekolahnya,” kata Intan.

Sejak SMA dan SMK sederajat diambil alih kewenangannya oleh Provinsi Jawa Barat dari pemerintah kabupaten/kota, banyak orangtua yang protes ke bupati Purwakarta karena harus membayar kembali biaya sekolah.

Padahal, sebelum diambil alih kebijakan tersebut, sekolah tingkat atas di Purwakarta tersebut tidak dipungut biaya apapun alias gratis.(SB/kom)

Comments

Tinggalkan Balasan