Inilah Sekilas Pespektif Pernikahan Kahiyang Ayu- Bobby Nasution

Sentralberita| Jakarta~Orang boleh nyinyir seperti telah disuarakan oleh dua pimpinan DPR, Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Pendapat kedua wakil rakyat tersebut masuk kategori nyinyir karena menggunakan perspektif amat sempit, tanpa didukung data dan fakta yang akurat.

Warga masyarakat kebanyakan tentunya dapat melihat momen hajatan Presiden Jokowi kali ini dengan perspektif lebih jernih dan objektif. Dengan statusnya sebagai Presiden, jumlah undangan sekitar 8.000 orang, sepertinya masih masuk akal. Apalagi sebagian diantaranya justru atas permintaan dari kalangan relawan yang ingin diundang.

Menteri Aparatur Negara memang pernah membuat edaran agar pejabat negara maksimal mengundang 1000 orang tamu. Tapi apakah seorang Presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan terikat oleh aturan menteri?

Hajatan seorang Presiden mestinya tak cuma dimaknai sebagai ajang ‘pamer’ kuasa dan harta. Dan Jokowi sepertinya tak sedang memamerkan keduanya. Meski berhak menggunakan fasilitas istana, misalnya, toh dia memilih menggunakan gedung miliknya pribadi. Begitu juga dengan konsumsi yang disiapkan untuk para tamu, sebagian merupakan produksi perusahaan anaknya sendiri, bukan mengandalkan dari restoran di hotel-hotel berbintang.

Dalam konteks lebih luas, pernikahan putri Jokowi di situ ada upaya untuk menjaga dan melestarikan nilai tradisi budaya. Hajatan yang digelar Jokowi tak cuma soal penyatuan cinta. Lebih dari itu adalah merajut kebhinekaan secara indah.

“Inilah kenasionalan kita, kebhinekaan kita,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai menjadi saksi pernikahan. Dia yang berpakaian adat Bugis merujuk kedua mempelai yang berasal dari dua suku dan budaya berbeda. Kahiyang dari Jawa, dan Bobby dari keluarga Mandailing, Sumatera Utara.

Wajah kebhinekaan juga tergambar dari prosesi kirab kereta kencana yang mengantarkan calon mempelai. Puluhan perempuan cantik dari kepolisian dan TNI berbusana adat Nusantara, seperti Aceh, Minangkabau, Dayak, Jawa, Sulawesi, dan Bali. Mereka berjalan di depan iring-iringan kereta kencana menuju Graha Saba Buana.

Di sisi lain, banyak sektor ekonomi meraup manfaat dari acara tersebut, karena Presiden justru melibatkan mereka secara langsung. Mulai dari

penata busana, perias, dekorasi, hingga penyajian aneka menu yang dihidangkan sepenuhnya berasal dari sekitar Solo.

Efek turunannya jelas. Mereka yang terlibat langsung itu tak cuma memetik keuntungan secara instan, tapi juga merasakan manfaat public relations yang tak ternilai secara rupiah. Dengan liputan media massa yang begitu luas nama mereka ikut terkatrol sehingga menorehkan citra positif.

Dalam hari-hari mendatang, rasanya bisa dipahami bila sate kere Yuk Ngatmi akan semakin legendaris sebagai salah satu maskot kuliner Solo. Belum lagi serabi nasi liwet, nasi tumpang, selat, cabuk rambak, dan menu lainnya juga akan kian popular di pentas kuliner nusantara.

Konon, Solo Raya Consortium 2017 malah sudah menyiapkan paket wisata bertemakan Nostalgia Jokowi bagi para tamu yang datang ke Solo. Tetamu diajak untuk berkeliling ke tempat-tempat bersejarah sewaktu Jokowi menjadi Wali Kota Solo, seperti Loji Gandrung, Taman Banjarsari, Pasar Klithikan Semanggi, Pasar Gede, dan lain-lain.

Ke depan, bukan tak mungkin juga akan ada wisata napak tilas ke lokasi-lokasi yang pernah digunakan Kahiyang-Bobby untuk pemotretan sebelum pernikahan, misalnya.

Bila menggunakan perspektif lain, politik dan relijius, misalnya, pernikahan Kahiyang dan Bobby juga menjadi ajang penegasan ikhwal keislaman Jokowi. Dia bukan seorang komunis seperti kerap difitnahkan pihak tertentu selama ini.

Dia juga tidak anti Islam, tapi justru amat dekat dengan para ulama yang sebenarnya. Ulama yang tak cuma mumpuni dari sisi keilmuan, tapi juga patut menjadi suri teladan umat karena sikap, tutur kata, dan perbuatannya senantiasa penuh kesantunan. Semua terwakili dari sosok KH Maimun Zubair, KH Mustofa Bisri, Salahuddin Wahid, serta Habib Luthfi Yahya yang duduk di barisan kursi terdepan.

Simak pula saat prosesi akad nikah berlangsung. Di situ ada pimpinan dua pimpinan ormas islam moderat terbesar, Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah. Ayat suci alqur’an dilantunkan, khotbah nikah dikumandangkan oleh KH Said Aqiel Siradj, dan pembacaan doa dipimpin oleh Haedar Nashir. Sebuah penataan protokoler yang sungguh elok. Membuat segalanya terasa sakral dan khidmat.

Singkat kata, proses pernikahan Kahiyang-Bobby memenuhi unsur syariat Islam terjaga, begitu juga nilai-nilai budayanya. Tak heran bila Said dalam khotbahnya menyebut prosesi tersebut sebagai bagian dari perwujudan, “Islam Nusantara.”(SB/dtc)

Comments

Tinggalkan Balasan