15 Rangkaian “Ngunduh Mantu”, Jokowi Akan Ulosi Kahiyang Ayu Tanda Melepasnya pada Suami

Sentralberita| Medan~ Diketahui nantinya terdapat 15 rangkaian acara adat Mandailing yang dilakukan pada proses pesta pernikahan ngunduh mantu Presiden Jokowi di Medan. Dalam salah satu prosesinya, Jokowi akan mengulosi Kahiyang Ayu sebagai tanda melepasnya pada sang Suami.

Adapun 15 rangkaian prosesi acara adat itu dimulai dengan Manyambut Bayo Pangoli Dohot Boru Nadioli; Haroan Boru; Mangalehen Marga To Boru Nadioli; Manalpokkon Lahanan (menyembelih kerbau); Manyantan Gordang Sambilan Dohot Gondang; Manortor; Mangalo-alo Mora; Manarimo Tumpak; Maralok-alok; Margalanggang; Mangulosi Bayopangoli Dohot Boru Nadioli; Tu Tapian Raya Bangunan Namartua; Mangupa Dohot Manabalkon Goar Matobang; Manortorkon Bayo Pangoli Dohot Boru Nadioli; Manyoda Gordang Dohot Gondang.

Dalam setiap prosesi nantinya para pelaku adat akan didamping prajurit TNI. Maka itu, kemarin prajurit TNI dari Kodam I/BB , melakukan gladiresik acara adat itu kemarin. Hampir semua prosesi adat dilakukan pada kegiatan itu diperagakan dengan baik, untuk menyesuaikan waktu pelaksanaan. Ada yang menjadi Kahiyang Ayu-Bobby Nasution, Raja-raja bahkan pemotong kerbau.

Sekretaris Acara Adat Ali Mukti Siregar mengatakan ada 15 prosesi adat yang dilakukan pada kegiatan itu, yang dimulai pada 19 November 2017 pukul 12.30. Kemudian ada juga dilakukan sidang adat bahwa ada dari keluarga Nasution menemui keluarga Siregar. “Bahwa dari marga Naustion ingin mengawinkan anaknya dengan orang lain. Karena nya, jika ingin cocok diberikan marga, yaitu pemberian marga Siregar kepada Kahiyang,” ujarnya.

Untuk rangkaian pesta adat sendiri dipegang oleh Group Kesenian Mandailing Gunung Kelabu Pakantan. Bakti Lubis pimpinan grup kesenian ini mengatakan kedua mempelai Kahiyang-Bobby akan melaksanakan adat Tapian Raya Namartua. Dalam prosesi adat tersebut keduanya dimandikan. “Kedua mempelai akan dimandikan yang dalam adat Mandailing disebut Tapian Raya Namartua,” jelasnya

Diterangkannya, seharusnya kedua mempelai dimandikan di Sungai Batang Hari sebagai tapian (tempat pemandian), tapi karena kondisi tempat tidak memungkinkan maka tapian hanya dibawakan seorang datuk (orang yang dituakan) dari kampung.

Comments