Pengalaman yang Melaporkan Kasus Pemerkosaan Kepolisian

kasus kekerasan seksual selalu menjadi korban psikologis

Sentralberita| Jakarta~ Bagaimana pengalaman para penyintas perkosaan, saat melaporkan kasus mereka kepada polisi?
Begini pengalaman dua penyintas kasus perkosaan, yang dituturkan kepada BC Indonesia.

Amanda (bukan nama sebenarnya) – ibu dari anak 16 tahun yang diperkosa ayah kandungnya sendiri.
Amanda mengingat, butuh waktu selama lebih dari tiga jam di kantor polisi untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP), saat melaporkan kasus perkosaan putrinya, dua tahun lalu.

“Rasanya nggak kuat untuk detail menceritakan kejadiannya,” ungkap Amanda.
“Petugas polisi perempuan yang menggunakan seragam, dan kata-katanya, ya, seperti ke orang dewasa. Misalnya: sebelum disetubuhi apa saja yang dilakukan? Ya anak saya karena masih kondisinya trauma terus ngomong terbata-bata dengan menangis.”

Banyak pertanyaan lain yang mengarah ke detail peristiwa perkosaan, yang membuat anaknya menjadi trauma, katanya.

“Anak saya kan jadi kayak dihakim. Kita yang jadi korban kayak kita yang jadi terdakwa. Kalau saya inget lagi saya sedih ya, anak umur 16 tahun itu apa yang dia mengerti tentang kekerasan seksual? Dia tak mengerti telah terjadi kekerasan seksual “.

Dia mengaku kecewa dengan sikap para penyidik saat itu.”Kurang ada empatinya. Maksudnya jangan menginterogasi kayak ke maling, gimana kejadian itu, layak seperti orang dewasa saja. Ya kecewa dengan pembuatan BAP-nya seperti orang dewasa.

Hal lain, kata Amanda, sebelum pembuatan BAP, Amanda dan anaknya harus menunggu di ruang tunggu yang dipenuhi banyak orang yang membuatnya kurang nyaman.

Setelah BAP selesai, Amanda membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menunggu perkaranya masuk ke proses selanjutnya. Polisi kemudian menetapkan pelaku sebagai tersangka, tapi kemudian dilepas setelah ada jaminan.

Kasus perkosaan yang diderita puterinya itu butuh waktu sampai delapan bulan sebelum akhirnya disidangkan di pengadilan. Selama proses tersebut, Amanda yang didampingi oleh LBH APIK sempat melaporkan kasus anaknya kepada Mahkamah Agung.
ara.
Sedangkan anaknya sendiri, menurut Amanda, sampai dua tahun setelah persidangan selesai masih mengalami trauma.
Masalahnya, pengadilan tidak memerintahkan pemerintah untuk memberikan layanan pemulihan trauma.
“Setelah secara hukum selesai, korban ya dibiarkan. Sekarang ini hampir tiap enam bulan saya membawa dia konsultasi (dengan psikolog)”. (SB)

Comments

Tinggalkan Balasan