Begini Cerita Sebelum Tewasnya Wartawan itu…

SentralberitaMedan~ Wartawan mingguan (Koran Senior) bernama Amran Parulian  Simanjuntak (35) warga Jalan Banten, Diski, Kecamatan Sunggal, Deliserdang  itu telah tiada. Begini cerita sebelum tewasnya sebagaimana yang diutarakan Kakak kandung korban mengutif cerita istri korban.

“Korban orangnya pendiam dan sangat tertutup sama masalah yang dihadapi,” ujar kakak kandung korban, Renova Simanjuntak, Rabu (29/3/2017). Seraya mengatakan tiga hari yang lalu korban sempat mendapat ancaman.

“Dia mungkin sudah mengenal pelaku dan sudah mengancamnya tiga hari yang lewat. Karena kata istrinya didengar percakapan sama pelaku jangan menghabisinya saat mengantar anak sekolah,” ujar Nova.

Tiga hari yang lewat istri korban mendengar percakapan korban dengan pelaku melalui telepon. Saat itu korban mengatakan, “ jangan mengancam korban saat hendak mengantar anaknya pergi ke sekolah”.

Pelaku pembunuhan diyakini keluarga kdirban sudah kenal dengan korban. Karena bisa tau kalau korban tiap pagi menghantar anaknya sekolah. Dan dia menduga juga kalau kasus ini berkaitan dengan pemberitaannya.

“Kerja kesehariannya cuman wartawan. Kadang bantu-bantu ngurus SIM ataupun KK dan juga lainnya,” tambahnya.

Sementara pihak kepolisian dari Polsek Sunggal masih memburu pelaku pembunuhan. Belum ada keterangan resmi dari pihak mereka terkait pembunuhan korban.

|Kronologi peristiwa itu terjadi, Senin pagi sekitar pukul 07:00 WIB, diduga karena sudah mempunyai firasat, wartawan mingguan (Koran Senior) bernama Amran Parulian Simanjuntak (35) warga Jalan Banten, Diski, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang menyuruh abangnya untuk mengantar sang anak ke sekolah.

Selanjutnya abang kandung korban pun menurutinya. Namun karena merasa curiga, korban mengikuti mereka dari belakang untuk melakukan pemantauan yang barangkali pelaku mencegat anaknya ke sekolah.

Dan sekitar pukul 08:00 WIB, tidak jauh dari sekolah anaknya, korban langsung dihadang para pelaku. Saat itulah dia langsung ditikam oleh para pelaku sebanyak 6 kali hingga tewas.

“Aku tadi dihubungi guru sekolah anaknya. Katanya adekku ditikam tidak jauh dari sekolah. Langsunglah kami ke lokasi,” ujar Renova Simanjuntak kepada wartawan.

Ditambahkannya, setelah mendapat informasi, mereka langsung ke lokasi. Saat itu sepanjang jalan sudah macet menuju lokasi. Dan setibanya di sana, korban sudah dibawa pihak kepolisian ke rumah sakit.

“Lokasi sangat macat, makanya kami tadi tidak bisa cepat ke lokasi. Katanya warga sekitar tidak ada yang berani membantu saat adik saya ditikam mereka,” tambahnya. (SB/01)

Comments

Tinggalkan Balasan