Jakarta Bienale Berupaya Konsisten Bertahan

Salah satu sudut perhelatan Jakarta Biennale 2015. (Dok/Foto: CNN

Sentralberita| Jakarta~ Sejumlah agenda seni Indonesia, seperti pameran seni rupa kontemporer dua tahunan (biennale) yang berjalan dengan inisiatif dari masyarakat atau badan tertentu, tidak masuk dalam program resmi yang didukung penuh dari pemerintah. Beberapa di antaranya, termasuk Jakarta Biennale yang sudah berlangsung dari era 1970-an, mesti berupaya konsisten untuk bertahan.

Menanggapi ini, Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengatakan pemerintah pada dasarnya mendukung agenda seni yang bermanfaat dengan melalui kurasi terlebih dahulu.

“Ada dua tipe, program yang diciptakan oleh lembaga sendiri, dan dari ajuan pelaku seni, kalau sesuai dengan tupoksi dan bermanfaat dengan beberapa penilaian, maka akan didukung,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (4/2).

Penilaian dan pemberian dukungan dalam hal ini bujet, kata Triawan mesti melalui sejumlah pertimbangan karena menyangkut uang negara.

Dari pengamatannya, Bekraf sejauh ini telah mendukung sejumlah agenda seni, di antaranya Art Jog dan perhelatan seni Karang Anyer.

Selain itu, lembaga pemerintah bentukan Presiden Joko Widodo pada 2015 itu, tahun ini juga mendukung pengiriman delegasi ke Venice Biennale yang berlangsung pada 13 Mei hingga 26 November mendatang.

“Venice Biennale itu ajang pameran seni rupa kontemporer yang paling tua, dan kita akan bawa seniman ke sana tahun ini,” ujarnya menambahkan.

Pada ajang biennale di Venezia, Italia itu, Indonesia disebutkan akan menempati pavilion seluas 70 meter persegi di venue Arsenale. Sebagai persiapannya, Bekraf telah menujuk menunjuk tim komisioner, di antaranya direktur artistik, kurator, dan seniman.

Tim komisioner tersebut terdiri dari Ricky Joseph Pesik sebagai ketua, dengan tiga anggota Melani W. Setiawan, Amelia Wirjono, dan Diaz Parzada. Selain itu, juga ada Enin Supriyanto selaku direktur artistik, Agung Hujatnika sebagai kurator dan Tintin Wulia sebagai senimannya.

Keterlibatan seniman Indonesia ke Venice Biennale beranjak dari keputusan Surat menteri Pariwisata Nomor UM.001/21/14/MP/2016 tanggal 13 Mei 2016 yang ditujukan kepada Presiden La Biennale di Venezia dan tembusan ke Kepala Bekraf. (SB/01/CNN/I)

Comments

Tinggalkan Balasan