Janda Mendiang Munir , Kamis ke-477 Lakukan Aksi

pengunjuk rasa penuntutan kasus HAM identik dengan payung hitam (foto/BBC)

Sentralberita| Jakarta~ Lebih dari seratus orang, sebagian besar berbusana hitam, memenuhi sebuah sudut di luar Taman Monas, persis di seberang Istana Presiden, Jakarta, Kamis (19/1) sore.

“Ini Kamis yang bersejarah,” kata Suciwati, janda mendiang Munir, pejuang HAM yang dibunuh secara misterius, 13 tahun lalu.

“Ini tahun ke-10, Kamis ke-477, sekaligus ke-477 kalinya kita lakukan aksi di depan istana, menuntut penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM,” tambah Suci yang kali ini bertindak sebagai pemimpin aksi.

.Selama 10 tahun dan 477 aksi, hanya pernah sekali mereka ditemui oleh tusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat dia berkuasa.

Dan mereka sudah meminta pertemuan dengan Presiden Jokowi, namun sejauh ini baru mendapat janji, bahwa pertemuan itu akan dijadwalkan.

“Saya tak tahu mengapa belum juga ditemui, atau kapan permintaan audiensi kami dikabulkan,” kata Sandyawan Sumardi, salah satu peserta setia aksi Kamisan.

Yang jelas, kata Sumarsih, mereka akan terus menggelar aksi, hingga keadilan terkait berbagai kasus HAM ditegakkan.

“Pak Jokowi masih memprioritaskan program-program pembangunan infrastruktur. Soal penuntasan kasus HAM masih belum prioritas rupanya,” tambah Sumarsih.

“Itu membuat kami bisa memastikan, bahwa aksi Kamisan akan terua berlangaung hingga waktu yang lama. Walaupun moga-moga tak sampai 10 tahun mendatang,” kata Sumarsih getir.

Yang terbaik, katanya pula, adalah kalau Kamisan bisa dihentikan, karena itu akan berarti keadilan dan hukum sudah ditegakkan.

“Sekarang, kami masih pesimis. Namun ada juga optimisme, bahwa makin banyak anak muda yang peduli pada apa yang kami perjuangkan,” katanya seraya menunjuk pilihan pelajar yang berdatangan, dan mengajaknya bicara. (SB/01/BBC)

 

Comments

Tinggalkan Balasan