Awas Munafik

Oleh: A Rasyid
Oleh: A Rasyid

 Sentralberita| Medan~ Ketika Alquran sebagai kitab yang termat suci dilecehkan oleh penganut agama lain, ternyata masih banyak juga umat yang memiliki identitas Islam melakukan pembelaan habis-habisan untuk membuat pembenaran. Ini sungguh merupakan fenomena  yang cukup mengagetkan. Ada apa dengan keimanan mereka, apakah mereka masih bisa dikatakan sebagai pembela Islam, apakah mereka masih bisa dikatakan lagi sebagai penganut Islam, atau apakah mereka adalah manusia-manusia munafik yang hanya bertopengkan Islam, lalu merusak dan menggerogoti Islam untuk menuju kehancuran.

Islam hari ini dalam kenyataannya sesungguhnya dihadapkan dengan pengkhianat-pengkianat agama. Masih ada umat yang mengaku beragama Islam, tetapi dengan ikhlas membiarkan agamanya, kitab sucinya diinjak-injak oleh orang tak segama. Bahkan yang lebih membahayakan lagi membela orang-orang yang dengan sengaja melecehkan kitab sucinya dengan bertopeng memberi interpretasi dan argumentasi yang sungguh-sungguh jauh dari kebenaran agama Islam itu sendiri.
Dalam Islam, Munafik adalah salah satu kategori atau golongan manusia yang diletakkan tarafnya lebih rendah daripada Muslim biasa. Terdapat 30 ciri orang-orang yang dikategorikan sebagai yang dapat disebut munafik melalui petikan hadis Rasulullah s.a.w. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar perkataan “munafik” diucapkan orang.
Tentang orang munafik ini Allah berfirman yang artinya, “Apabila mereka menjumpai orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Namun jika mereka menyendiri beserta dedengkot-dedengkotnya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami di pihak kalian. Hanya saja kami hendak mengolok-olok kaum mukmin.’ Allah akan mengolok-olok mereka dan menelantarkan mereka dalam kedurhakaan, sedangkan mereka dalam keadaan bimbang” (QS: 2: 14-15).
“Apabila orang-orang munafik mendatangimu (Muhammad), mereka akan berkata, ‘Kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkaulah utusan Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah. Dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu pendusta” (QS: 60: 1).
Kemunafikan ini semakin menjadi-jadi setelah masa berlalu. Bahkan Imam Malik pernah berkata, “Nifaq di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu zindiq di masa kita sekarang” (Dalil Al-Falihin II/494).
Dalam Kitab At-Tauhid hlm. 20, Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan, “Orang-orang munafik itu akan terus ada sepanjang masa. Apalagi tatkala kekuatan Islam nampak dan mereka benar-benar tidak bisa mengalahkannya. Saat itulah mereka memeluk Islam dengan tujuan memasang makar buat Islam dan orang-orang Islam dalam hati mereka.”
Apa yang dikatakan Syaikh Shalih  memang benar-benar terjadi. Berapa banyak kita jumpai manusia yang mengaku dirinya muslim namun gerak-geriknya selalu mendukung langkah pihak-pihak kafir. Pernyataan-pernyataannya selalu menguntungkan orang-orang kafir dan menyakiti hati kaum muslimin.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan agar kita bersikap keras dan menjauhi orang-orang munafik serta menjadikannya sebagai musuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai Nabi, jihadilah orang-orang kafir dan munafikin serta bersikap keraslah kepada mereka.” (At-Tahrim: 9) Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka (orang-orang munafik) adalah musuh maka hati-hatilah dari mereka…” (Al-Munafiqun: 4)
Begitu bahayanya sifat munafik ini, hendaknya seorang mukmin berusaha semaksimal mungkin memasang jarak dari sifat munafik,  baik nifak besar maupun kecil. Adalah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang shalih sangat mengkhawatirkan terjangkit penyakit hati yang satu ini. Sampai-sampai Abu Ad-Darda’ setiap habis salat selalu minta perlindungan kepada Allah dari sifat munafik. Kebiasaan ini pun membuat orang bertanya pada beliau, “Ada apa antara engkau dengan nifak?” “Jauhi kami. Demi Allah, sesungguhnya seseorang bisa saja agamanya berubah dalam sesaat sehingga ia terlepas darinya,” jawab Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu.

Comments