Ikhlaskan Pasien Tanpa Tarif Berobat, Aznan Lelo Tujuh Kali Ke Tanah Suci

Prof Aznan Lelo tunaikan ibadah haji k-7 (Foto-SB/01)
Prof Aznan Lelo tunaikan ibadah haji k-7 (Foto-SB/01)

Medan, (Sentralberita)-Di tempat prakteknya Jalan Turi Medan, setiap harinya pasien berobat antrian panjang berduyun-duyun seakan tanpa henti  menunggu dengan sabar untuk bertemu dengan sang dokter Prof dr Aznan Lelo di kediamannya itu.

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini membuka praktik tanpa memasang papan nama, kepada pasiennya dia tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau. Cukup fenomenal, kontras dengan umumnya dokter, apalagi di kota-kota besar.

Tapi bagi Buya yang sering dipanggil masyarakat ini, punya pandangan tersendiri terhadap profesinya sebagai dokter. Ketika ditemuai di Asrama Haji menjelang keberangkatannya ke tanah suci, Minggu (28/8/2016) malam, kelahiran Bukit Tinggi 2 Desember 1951 ini mengemukakan ada tiga profesi dalam kehidupan ini yang tak boleh minta uang. Baginya halnya hal tersebut merupakan pelajaran yang berharga yasng tertanam dalam dirinya.

“Apa bila orang datang kepada kita menceritakan persilisihan dan berbagai persoalannya dan minta tolong bagaimana solusinya, sebagai seorang pengacara tak boleh minta uang kepadanya. Jadi profesi pengacara itu tak boleh minta uang.

Kemudian, datang orang sakit, aku sakit, aku mau berobat. Kita tak boleh minta uang, tapi kalau dia kasih kita terima, oh…jangan tak boleh, begitu juga ketika orang datang mau belajar kepada kita jangan minta uang kepadanya”

Aznan Lelo yang profesinya sebagai dokter mengamalkan hal tersebut. Karena itu sejak buka praktek 1978 coba menerapkannnya. “Saya kepada pasien terserah. Silahkan mau bayar, silahkan tak bayar.”ujarnya seraya menyebut kalau kali-kali dunia kedokteran tak mungkin tapi nyatakanya saya sudah enam kali berangkat dan kali ketujuh ini,tambahnya.

Mungkn do’a pasien yang saya bantu dengan ikhlas, mereka medoakan saya, karena ini semua kuasa Alla SWT,  lanjutnya.

Saat pergi haji pertama, tutunya menjelaskan, dengan istri pertamanya dan kedua orangtuanya , pergi kedua sendiri, pergi ketiga dengan bapak saya lagi, pergi keempat dengan mamak saya, pergi kelima dengan istri pertama lagi, pergi keenam dengan istri kedua dan pergi ketujuh dengan istri pertama dan kedua.

Harapannya di tanah suci nanti  dengan memhon ridoNya memperoleh haji yang mabrur.  (SB/01)

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Tinggalkan Balasan