Ibu Menentukan Nasib Bangsa

2216Oleh : Anang Anas Azhar

Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai peran ibu. Hampir semua negara

di dunia ini menempatkan satu hari, khusus untuk hari ibu. Ada yang menempatkan

hari ibu sebagai hari peringatan nasional, bahkan ada juga negara yang memberikan

like spesialis untuk ibu, sebagai bentuk penghargaan dari ibu.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ibu diartikan, wanita yang

telah melahirkan seseorang, panggilan takzim kepada wanita yang baik dan telah

bersuami maupun yang belum. Bahkan, ibu juga dimaknai sebagai kata yang

terpenting dan utama dalam hidup ini.

Dalam catatan kalender Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember dan

ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbeda dengan negara-negara di luar negeri,

sebagian negara di sana seperti Kanada, Amerika, Australia, , Jerman, Italia, Jepang,

Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu (Mother’s Day)

dirayakan pada minggu kedua di bulan Mei. Ini artinya, secara psikologi ibu

merupakan sosok yang melekat dan dekat dalam kehidupan seseorang. Saking

dekatnya, kedekatan ibu jauh lebih dekat, jika dibanding dengan seorang ayah atau

bapak.

Kenapa peran ibu lebih besar jika dibanding peran ayah? Ibu adalah pekerja utama

dalam hidup berkeluarga. Ibu bekerja tanpa pamrih, bahkan kerja-kerja dalam rumah

tangga jika tidak dikerjakan ibu bisa berantakan. banyak Pertanyaan mendasar yang

kita lontarkan adalah, apakah pantas ibu yang kita mengandung selama sembilan

bulan, menyusui dan menyampih selama dua tahun, serta menjaga kita hingga

dewasa, hanya diberikan satu hari saja bagi mereka. Ini jelas tak pantas, karena itulah

peran ibu sangat besar dalam hidup ini.

Nasib Bangsa

Peran ibu dalam menentukan nasib bangsa tak terlepas dari dorongan psikologis.

Nasib bangsa terkadang dipertaruhkan melalui peran ibu. Meski perannya tidak

nampak di permukaan, tetap secara psikologis sangat menentukan seorang laki-laki

untuk menjalankan tugasnya. Apakah tugas yang berkaitan dengan pribadi atau

kenegaraan. Perannya tidak nampak, namun sangat menentukan masa depan sebuah

bangsa.

Kisah-kisah literatur sejarah, juga telah membuktikan bahwa peran ibu merupakan

modal awal seorang laki-laki untuk mendukung kerjanya. Rasulullah SAW sendiri,

ketika di awal pengembangan dakwahnya tak terlepas dari dukungan sang istri, Siti

Khadijah. Istri Rasulullah ini, benar-benar mendukung kerja mulia sang Rasulul.

Bahkan, karena Siti Khadijah memiliki rezki yang berlebih, dirinya pun

menginfakkan hartanya untuk perjuangan sang suami. Khadijah juga ikut memberikan

sokongan kepada Rasulullah saat menjalankan misi mulia mengembangkan ajaran

Islam di tengah kekerasan suku quraisy.

Sekitar 3.000 tahun silam juga, Nabi Ibrahim tak berdaya ketika tidak memiliki anak.

Bahkan istri tercintanya sendiri, menyuruh Ibrahim untuk menikah kembali dengan

wanita lain, dan akhirnya Ibrahim memiliki dua anak, dari istri pertama dan istri

  • kedua. Istri pertama, Ibrahim dikarunia Allah berupa anak bernama Ismail, kemudian

istri kedua, Allah SWT memberikan anak bernama Ishaq. Semangat Ibrahim pun

terpancar dalam hidupnya ketika sudah dikarunia anak. Kata yang pantas dipetik dari

pernikahan Ibrahim itu adalah, sang istri menyuruh Ibrahim menikahi wanita lain

untuk dapat keturunan. Betapa mulianya istri pertama Ibrahim, sampai-sampai

istrinya menyuruh Ibrahim menikah kembali, hanya gara-gara faktor keturunan.

Dalam konteks keindonesiaan, Indonesia merdeka tak terlepas dari peran serta ibu.

Tokoh dari Aceh Cut Nyak Din, Istri Soekarno dan lainnya, adalah bentuk nyata

betapa peran ibu sangat penting dalam mendorong kemerdekaan Indonesia. Bahkan,

Presiden SBY sekalipun, membutuhkan peran sang ibu dalam menjalankan

pemerintahan di negara ini.

Mengurai peran Ibu di atas, munculnya hari Ibu memang sudah pantas. Bukankah kita

seharusnya memberikan perhatian lebih dari apa yang diberikan kepadanya?

Kanyataan pada hari ini, banyak ayah bahkan anak yang menganggap ibu hanya

tempat mengadu jika ada masalah, namun peran ibu sebagai teman, sebagai wanita

yang harus kita sayangi dan kagumi terlupakan. Hari-hari dihabiskan dengan kegiatan

kerja, kampus atau pun sekolah, sehingga waktu bersama ibu sangat sedikit

diluangkan. Kita lupa bahwa ibu menginginkan perhatian dari anaknya, betapa

sedihnya ia kalau kita hanya memberikan perhatian kepadanya satu hari di

penghujung tahun.

Semua ibu pasti berharap yang terbaik adalah untuk anaknya. Apapun dilakukan demi

terpenuhinya kebutuhan dan keperluan si buah hati. Terkadang ibu sering dipusingkan

dengan permintaan si anak yang bermacam-macam, meminta mainan setiap kali pergi

ke pasar, minta di belikan ini, itu dan sebagainya. Dari kecil sampai dewasa

permintaan demi permintaan sering kali kita ajukan kepada ibu, bahkan ada yang

tidak mau tahu, apakah ibunya punya uang atau tidak, yang terpenting kebutuhannya

harus dipenuhi oleh ibu.

Rasulullah pernah bersabda : “Siapakah orang yang berhak kulayani dan

kuperlakukan dengan baik ya Rasulullah? Nabi saw menjawab: Ibumu. Sahabat pun

kemudian bertanya lagi: Siapa lagi ya Rasulullah? Nabi pun memberikan jawaban

yang sama: Ibumu, Ibumu, sampai tiga kali. Barulah pertanyaan yang keempat

Rasullulah menjawab: Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu mulianya sang ibu dalam hidup kita, sampai-sampai Rasulullah benar-benar

menyuruh umatnya untuk berbuat baik kepada ibu, karena surga itu terletak di bawah

telapak kaki ibu. Bertahun-tahun ibu menghabiskan waktunya untuk membesarkan

anak-anaknya, hingga mereka menjadi orang-orang yang sukses. Sampai saatnya

ketika anak tersebut menikah dan mempunyai istri atau suami, mereka pun pindah

rumah dan meninggalkan ibunya. Alasan yang sering dikemukakan adalah karena

pekerjaan.

Tak terlepas dari itu, peran sang ibu mempersiapkan generasi bangsa ini sangat besar.

Terlebih dalam mencetak generasi mandiri dan cerdas dalam sebuah negara.

Karenanya, ibu merupakan nasib penentu sebuah negara, ibu merupakan tolak ukur

maju mundurnya sebuah bangsa. Untuk itu, melalui peringatan Hari Ibu 22 Desember2015 ini, kita sudah selayaknya menghormati ibu sebagai penyangga sebuah bangsa.

Penulis Adalah Dosen Fisipol UMSU dan Kandidat Doktor Komunikasi Islam

Pascasarjana UIN Sumut

 

Comments